Tuesday, March 17, 2009

[Kompas 100]: Multistrada Arah Sarana: "A Raising Star in The Replacement Tire Market"

Bagian 35 dari 100

Selasa, 17 Maret 2009 | 07:09 WIB

Lebih banyak orang yang ingat Denzel Washington dibandingkan Cuba Gooding, Jr.

Padahal dua-duanya adalah pemenang Piala Oscar yang African American. Kebetulan saja Denzel memang mendapatkan Oscar lebih banyak -satu untuk best actor dan satu untuk best supporting actor- dibandingkan Cuba yang hanya dapat satu Oscar untuk best supporting actor. Tapi bukan jumlah Piala Oscar yang membedakan keterkenalan keduanya.

Denzel sudah banyak tampil sebagai pemeran utama di film-film laris dan bermain bersama bintang-bintang top, sementara Cuba lebih banyak tampil sebagai pemeran pembantu. Selain itu, film-film laris Denzel banyak mengundang perhatian karena banyak hal, mulai dari cerita film yang mengisahkan tokoh yang besar, hingga ke keputusan kontroversial yang diambilnya. Yang tersebut terakhir ini muncul ketika Denzel menolak beradegan romantis dengan sejumlah pemeran wanita yang kebetulan kulit putih karena ia percaya masyarakat Amerika Serikat belum siap.

Keputusan semacam itu membuat kaget banyak orang, terutama para pemeran utama wanita yang beradu peran dengan dia, yang percaya bahwa masyarakat Amerika sudah berubah. Belakangan, setelah percaya bahwa saatnya sudah tiba, dia akhirnya berani beradegan romantis. Dan ia bisa dibilang tidak salah mengambil keputusan terutama kalau mengingat bahwa ternyata dibutuhkan waktu agar peran sebagai pemeran utama yang bagus di berbagai film memang layak diganjar dengan Oscar sebagai pemeran utama pria terbaik, dimana ia merupakan African American kedua yang menang di kategori itu.

Pencapaian tersebut menyebabkan Cuba jadi semakin kalah bersinar dibanding Denzel. Mau tak mau dia mesti mencari celah yang memungkinkan eksistensi dan relevansinya sebagai seorang aktor yang bagus –sekalipun hanya aktor pembantu– dihargai orang. Salah satu usaha Cuba adalah menjadi pengisi suara untuk sebuah film kartun.

Seperti halnya dunia film, dunia bisnis juga lebih bersahabat dengan mereka yang termasuk sebagai leading actor dibandingkan supporting actor. Tapi sebagaimana Cuba, business player yang tergolong sebagai supporting actor harus tidak gampang menyerah dan terus mencari opportunity baru. Inilah yang misalnya dilakukan PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA), a rising star in the replacement tire market.

Bisa jadi belum banyak orang yang tahu bahwa MASA adalah perusahaan yang mengeluarkan produk Achilles, Corsa dan Strada. Maklum, selain tidak main di OEM tire market, MASA memang lebih memilih untuk menjalankan low budget high impact campaign. Ketika para pesaing yang lebih besar tidak mau masuk ke balapan slalom dan bahkan drifting, MASA bukan hanya mensponsori dan membentuk tim, tapi bahkan juga membuat produk khusus dimana gesekan ban dengan jalan akan mengeluarkan asap berwarna.

Menariknya, langkah MASA yang seperti itu dibiarkan saja oleh para pesaingnya yang lebih besar. Akibatnya produk MASA mendapatkan exposure yang semakin besar dikalangan penggemar otomotif, terutama setelah melihat performance produknya. Dengan bekal semacam itu, MASA lebih enak untuk masuk ke berbagai komunitas otomotif.

MASA sebetulnya bukan pemain yang tidak punya track record. Meski baru didirikan di tahun 1988, tapi dalam waktu relatif singkat MASA bisa menciptakan kesempatan membangun kompetensi dengan bekerjasama bersama pabrik ban termuka dunia seperti Pirelli dan Continental. Tapi krisis ekonomi di tahun 1997-1998 memaksa MASA tidak bisa mengeksploitasi kompentensi yang coba dibangunnya.

Dimulai dari restrukturisasi keuangan yang dilakukan sejak tahun 2004, MASA pelan tapi pasti mulai membangun kembali kompetensi di industri ban, terutama dalam membangun produk ban berkualitas. Salah satunya adalah mendatangkan mesin-mesin pembuat ban generasi baru. Keberadaan mesin semacam itu, membuat MASA lebih mudah melakukan trust building melalui factory visit bukan hanya dengan media otomotif dan para penggemar otomotif, tapi juga para pemilik toko ban.

Respon yang cukup bagus dari kelompok-kelompok tersebut tidak membuat MASA jadi over confident. Dengan jeli, MASA justru memilih untuk memposisikan produknya sebagai value product, punya kualitas tapi harganya terjangkau. Ditambah dengan inovasi dari segi marketing dan dari segi produk, pelan tapi pasti MASA yang hanya memilih masuk di kategori replacement dan tidak masuk di kategori OEM muncul menjadi rising star industri ban Indonesia.

"Philip Kotler's Executive Class: 71 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: