Sunday, March 1, 2009

[Kompas 100]: Mobile-8: A Fighter in A Price War Influenced Industry

Minggu, 1 Maret 2009 | 14:04 WIB

SEISI stadion Olimpiade Beijing berdiri dan memberikan tepukan bagi Samia Yusuf. Ini mungkin hal yang biasa, kalau sang pelari tersebut adalah pelari pertama yang masuk finis. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Ketika para pesaingnya di lomba lari 200 meter sudah finis dan sedang melakukan peregangan, Samia belum separo jalan.

Semula tak banyak orang yang memperhatikan. Dan sudah biasanya perhatian diberikan kepada calon-calon juara yang akhirnya menjadi juara 1, 2 dan 3. Tapi begitu kamera televisi menangkap sebuah titik yang bergerak di lintasan dan kemudian terlihat semakin jelas, barulah seisi stadiun sadar apa yang terjadi.

Olimpiade sebetulnya bukan sekedar urusan siapa yang tercepat, terkuat dan tertinggi tapi juga semangat pantang menyerah. Dan Samia –yang datang dari Somalia, yang dianggap negara gagal – dengan badan kerempeng dan sebetulnya bukan atlet yang pas untuk berlomba di lari 200 meter itu merupakan contoh terbaik semangat pantang menyerah. Sehingga di Olimpiade Beijing bukan hanya Michael Phelps atau Usain Bolt saja yang bisa dijadikan inspirasi tapi juga Samia Yusuf.

Semangat pantang menyerah Samia memang sungguh dramatis. Tak heran kemudian Samia menjadi salah satu cerita menarik di Olimpiade Beijing yang dimuat di sejumlah media utama dunia. Tapi di kehidupan sehari-hari kita sering menemukan cerita semangat pantang menyerah yang bisa jadi tidak sedramatis tapi layak untuk diperhatikan.

Dunia bisnis kita juga menyimpan banyak cerita tentang perusahaan-perusahaan yang pantang menyerah, yang dengan keterbatasan resources dan memiliki size yang kecil tapi tidak ragu untuk bersaing dengan pemain yang memiliki resources lebih banyak dan size yang puluhan atau ratusan kali lipat. Dengan ketekunannya mereka bisa menciptakan layanan yang unik dan menemukan ceruk atau bahkan segmen yang tidak tergarap oleh pemain-pemain yang lebih besar. Inilah yang misalnya terjadi di industri seluler Indonesia.

Dalam industri ini sebetulnya sudah terlalu banyak pemain, kalau melihat jumlah pemain yang mencapai 11. Apalagi 3 pemain besar dalam industri seluler menguasai sekitar 80 persen pangsa pasar, dan 20-an persen selebihnya diperebutkan 8 pemain lainnya. Repotnya lagi, industri ini resource hungry, alias butuh modal besar yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

Tapi tantangan tersebut tidak menghalangi PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) yang masuk dalam 8 pemain lainnya untuk melakukan eksplorasi pasar. FREN misalnya menawarkan perlindungan asuransi kecelakaan dan rawat inap kepada pelanggan sebagai upaya menjaga loyalitas dan sekaligus menarik pelanggan baru. Dengan cara seperti ini, FREN seperti seorang pejuang yang ingin keluar dari jebakan perang harga yang mewarnai industri seluler sejak 2 tahun terakhir dan kedepan.

"Philip Kotler's Executive Class: 88 Days To Go"

Hermawan Kertajaya, Taufik

Kompas

No comments: