Thursday, March 19, 2009

[Kompas 100]: Media Nusantara Citra: "A Self-Made Integrated Media Company"

Kamis, 19 Maret 2009 | 07:55 WIB

Real Madrid mesti kembali punya Los Galacticos!

Tidak hanya parpol atau capres negara yang bisa berjanji, tapi juga para calon presiden klub utama liga Spanyol. Kebetulan, di klub seperti Real Madrid dan Barcelona, tidak ada pemilik yang dominan, seperti yang terjadi juga di liga Inggris, sehingga peluang untuk duduk di kursi puncak klub lebih terbuka. Dan sebagai upaya untuk mendapatkan dukungan suara, maka para capres klub Real Madrid membuat banyak janji.

Mereka membuat janji yang ambisius, terutama dalam mendatangkan para superstar untuk bermain bagi klub di musim kompetisi depan. Supaya menarik perhatian mereka sering bilang bahwa akan mendatangkan maha bintang terbaik yang money can buy. Tidak mengherankan kalau sejumlah biaya fantastis untuk mendatangkan pemain pun bermunculan.

Apakah berhasil? Kalau melihat pengalaman Real Madrid sebelumnya, yang namanya Los Galacticos atau superstar tidak berhasil membuat klub punya catatan prestasi yang luar biasa. Bahkan klub ini sempat dipandang remeh, sekalipun punya sederetan maha bintang, karena sering kalah dari klub-klub yang sebetulnya tidak punya superstar.

Meskipun demikian ini tidak memadamkan minat salah satu capres untuk menghidupkan kembali Los Galacticos terutama kalau mengingat prestasi Real Madrid -yang beda dengan Manchester United- yang tidak menggambarkan diri sebagai sebuah klub besar yang layak ditakuti. Dan di tengah persaingan ketat, bukan hanya dalam meraih gelar bergengsi tapi juga dalam mendapatkan duit dari pertandingan tur dan merchandise, punya deretan superstar sungguh irresistible. Dengan fungsi multiganda seperti itu, sebetulnya tidak hanya Real Madrid yang ingin punya Los Galacticos masing-masing.

Bukan hanya klub-klub sepakbola yang ingin punya Los Galacticos, tapi juga perusahaan. Dalam konteks dunia bisnis, sebuah perusahaan yang punya unit-unit usaha yang tergolong superstar bisa berpotensi menawarkan apa yang bisa disebut sebagai one stop service. Inilah yang misalnya ingin dilakukan oleh PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), sebuah perusahaan dengan berbagai lini bisnis yang bergerak di bidang media yang beragam.

Pada saat ini, di Indonesia sudah banyak perusahaan media yang punya lini bisnis beragam. Ada perusahaan koran yang punya bisnis di media lain seperti radio, internet dan televisi dan ada juga perusahaan televisi yang punya bisnis seperti radio dan internet. Tapi yang dilakukan MNCN melebihi apa yang dilakukan perusahaan media lainnya.

MNCN yang awalnya adalah stasiun televisi swasta pertama di Indonesia, secara pelan-pelan mulai masuk di bisnis media lainnya. Mulai dari radio, media cetak, tv kabel 24 jam hingga media agency. Dan di industri televisi, MNCN bahkan punya tiga stasiun televisi nasional.

Sebagai sebuah perusahaan media yang awalnya adalah stasiun televisi, MNCN sadar benar akan pengaruh media di Indonesia. Karena itu bisnis televisi-nya, yang punya coverage bagus di tingkat nasional, dijadikan sebagai hub untuk membangun merek berbagai unit media lain yang dimilikinya. Dengan cara seperti ini, sekalipun MNCN masuk di area bisnis yang baru, awareness-nya bisa naik dengan cepat.

Berbekal awareness yang tinggi, MNCN kemudian tancap gas untuk membesarkan berbagai perusahaan-perusahaan yang memasuki area-area baru. Gerak cepat semacam ini membuat unit-unit baru MNCN menjadi pemain yang diperhitungkan di kategori industri yang dimasukinya. Kalau berjalan sesuai dengan yang direncanakan, bukan tidak mungkin MNCN akan punya Los Galacticos di industri media Indonesia.

Yang menarik, kalau Los Galacticos-nya memang berhasil terbentuk, MNCN bisa mewujudkan hal yang tidak banyak bisa dilakukan perusahaan media lain, bahkan di tingkat dunia sekalipun. Kebanyakan perusahaan media yang punya berbagai unit media yang menjadi pemain yang diperhitungkan di kategori industrinya, melakukan hal itu dengan proses akuisisi, sementara apa yang dilakukan MNCN adalah membangun home grown Los Galacticos alias menjadikan diri sebagai a self-made integrated media company. Proses tersebut akan membuat proses integrasi dan kolaborasi antar berbagai perusahaan di berbagai kategori industri media bisa berjalan lebih mulus.

Tentu saja, yang namanya integrasi dan kolaborasi antara berbagai unit media akan bermakna kalau masing-masing memang benar-benar memiliki kemampuan menghasilkan produk dan layanan yang berkualitas. Inilah yang menurut kami menjadi tantangan MNCN ke depan, terutama kalau melihat bahwa unit-unit media MNCN akan bersaing dengan berbagai pemain kuat di kategori industri masing-masing. Bahkan di bisnis televisi pun, MNCN yang menjadi pionir kini berhadapan dengan sejumlah rising star di industri tersebut.

Dengan kata lain, MNCN akan berperang di medan yang begitu beragam. Ini bukan hanya akan memaksa resources-nya melakukan strech-out, tapi pada saat yang bersamaan akan bisa menyatukan para pesaingnya untuk beraliansi. Kami percaya bahwa MNCN memahami situasi semacam ini, sehingga MNCN tidak ragu mendatangkan talent dari berbagai kategori industri untuk membesarkan dan membuat kuat home grown business unit-nya.

"Philip Kotler's Executive Class: 69 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: