Friday, March 27, 2009

[Kompas 100]: Global Mediacom: "An Integrated ICT Company"

Jumat, 27 Maret 2009 | 07:46 WIB

Apa beda Restoran Padang di Indonesia dan di negara tetangga kita?

Jawabannya bisa ditemukan pada pengalaman orang Indonesia yang memang suka makan di Restoran Padang di Indonesia dan juga di Malaysia. Di Indonesia, sudah jamak rasanya kalau tamu dilayani oleh pelayan yang mendatanginya dengan membawa banyak piring sekaligus dengan beraneka ragam makanan di atasnya. Sedangkan di Kuala Lumpur, banyak orang Indonesia yang masuk di Restoran Padang di sana kaget ketika tidak menemukan ritual seperti itu, tapi malah di tanya dulu mau pesan apa dan baru dilayani.

Ini sungguh sesuatu yang menarik, karena operasional Restoran Padang menjadi sedikit lebih ramping dengan tidak lagi ada pelayan yang membawa deretan piring kecil di atas tangannya. Perubahan semacam itu memaksa Restoran Padang di negara tetangga untuk bersaing dalam the same level of playing field dengan restoran-restoran lain: makanan yang enak dan lezat serta standard process, from order to delivery. Apabila mampu bersaing di Kuala Lumpur, bukan tak mungkin Restoran Padang akan menjadi fenomena internasional seperti Restoran Thailand.

Banyak perusahaan besar yang sebetulnya melakukan proses seperti yang dilakukan Restoran Padang di negeri tetangga. Ini mereka lakukan karena tuntutan persaingan sangat ketat, termasuk dalam menghadapi para spesialis. Dalam kondisi semacam itu, perusahaan besar biasanya akan bersaing dengan menawarkan integrated offerings.

Inilah yang dilakukan oleh PT Global Mediacom Tbk (BMTR). BMTR, yang bergerak di bisnis media berbasis konten & iklan, telekomunikasi & TI, serta media berbasis pelanggan, ingin mengikuti jejak sejumlah perusahaan media besar global yang berambisi menjadi perusahaan ICT. BMTR memang sudah mengalami banyak perubahaan sejak didirikan pada tanggal 30 Juni 1981 dengan nama PT Bimantara Citra.

Pada awalnya, BMTR bergerak di bisnis perdagangan umum dengan enam bidang usaha, yaitu: media dan penyiaran, telekomunikasi dan teknologi informasi, hotel dan properti, kimia, infrastruktur, serta transportasi. Namun dalam perkembangannya, BMTR lalu melepas beberapa bidang usaha dalam upaya untuk meningkatkan fokus perusahaan. Restrukturisasi ini sepertinya didorong oleh hadirnya Bhakti Investama, yang terlibat dalam BMTR sejak tahun 2002 dengan pembelian sebagian saham perseroan, dan pada awal 2007 menjadi pemilik mayoritas dengan memegang 51 persen kepemilikan.

Dengan melepas beberapa aset serta melakukan perubahan nama dan logo perusahaan pada tahun 2007, tampaknya BMTR ingin menunjukkan keseriusannya dalam memfokuskan diri sebagai perusahaan media dan telekomunikasi.

Beberapa brand yang pada saat konsolidasi dimiliki oleh BMTR adalah MNC –termasuk stasiun televisi RCTI, Global TV, dan TPI–, perusahaan telekomunikasi Mobile-8, dan televisi berlangganan Indovision. Namun dalam perkembangannya, BMTR akhirnya melepas Mobile-8 yang memang tidak menunjukkan kinerja yang memuaskan. Dimulai pada akhir 2008, kepemilikan BMTR pada perusahaan telekomunikasi tersebut mulai di lepas ke berbagai pihak, terutama ke Jerash Investment Ltd, sebuah perusahaan yang berbasis di Dubai. Kini kepemilikan BMTR di Mobile-8 hanya tersisa 19 persen saja.

Setelah melakukan seluruh upaya restrukturisasi ini untuk menunjukkan komitmen perusahaan dalam industri media, tantangan BMTR ke depan adalah bagaimana dia dapat me-leverage kekuatan yang terbentuk untuk tidak saja berhasil menjadi media giant di Indonesia, tapi juga bersaing di tingkat global.

Beberapa langkah awal untuk memasuki pasar Asia memang sudah dilakukan oleh BMTR, seperti membentuk kerjasama dengan StarHub untuk menyiarkan The Indonesian Channel di Singapore, dan juga melakukan akuisisi terhadap sebagian besar saham Linktone Ltd., penyedia layanan hiburan interaktif wireless ternama di China. Jika BMTR sukses merambah pasar regional dan me-leverage-nya untuk memperkuat bisnisnya di pasar domestik, maka posisi sebagai an integrated ICT company di Indonesia akan menjadi kuat.

"Philip Kotler's Executive Class: 61 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: