Friday, March 13, 2009

[Kompas 100]: Davomas Abadi: "A Value Adder in the Commodity Market"

Bagian 31 dari 100

Jumat, 13 Maret 2009 | 07:29 WIB

Mengapa Swiss perlu punya Angkatan Laut?

Ini adalah pertanyaan dalam joke yang menceritakan tentang dialog antara seorang menteri dari Swiss dengan seorang menteri dari negara berkembang. Kita tahu Swiss tidak punya pantai dan memang tidak punya angkatan laut, sekalipun negara itu punya perahu militer yang berpatroli di danau-danau utama Swiss. Dan sang menteri dari Swiss kemudian menyerang balik dengan bertanya, ”Mengapa negara anda perlu punya menteri keuangan?”

Swiss adalah sebuah negara yang memang punya banyak keunikan yang membuatnya bisa melakukan hal-hal yang tidak terbayangkan. Swiss adalah negara yang netral, tidak ikut memihak dalam Perang Dunia dan tidak ikut blok militer yang bersaingan di dunia. Tapi untuk pertahanan diri, negara ini tidak hanya mengandalkan tentara aktif tapi juga tentara cadangan yang berasal dari orang dewasa yang pernah mengikuti wajib militer.

Namun yang lebih menarik dari Swiss adalah di dunia bisnis. Dimana sejumlah perusahaan Swiss bisa mencapai kesuksesan sebagai penghasil produk tertentu sekalipun tidak punya bahan bakunya. Salah satu contohnya adalah coklat.

Swiss, bersama Belgia, memang dikenal sebagai penghasil coklat terbaik di dunia. Menariknya, di dua negara itu tidak ada satupun lahan pohon kakao, bahan baku utama pembuat coklat. Mereka harus mendatangkannya dari tempat yang jauh, seperti dari Afrika Barat, persisnya Pantai Gading dan Ghana, dua negara produsen biji kakao terbesar di dunia yang memasok kurang lebih 70 persen dari permintaan global.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa –setelah kedua negara tersebut– Indonesia adalah pemasok biji kakao terbesar ketiga di dunia. Beberapa estimasi bahkan menempatkan Indonesia, dengan produksi sekitar 700.000 ton pertahun, pada posisi kedua, di atas Ghana. Harus diakui bahwa ini adalah buah kesuksesan salah satu program dari pemerintahan Orde Baru yang waktu itu cukup kontroversial, yaitu transmigrasi. Dari hanya sekitar 100.000 hektar lahan yang berproduksi pada tahun 1988, dan berpusat di pulau Jawa, kini Indonesia memiliki sekitar 1 juta hektar lahan perkebunan kakao yang tersebar hingga Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Sulawesi bahkan menyumbang 60 persen dari total produksi nasional.

Meskipun demikian, kalau dalam hal pengolahan biji kakao, Indonesia ternyata masih tertinggal jauh. Lebih dari 80 persen biji kakao Indonesia langsung ditujukan untuk pasar ekspor. Indonesia bahkan masih dibawah Malaysia dalam hal cocoa grinding ini. Ini meskipun sudah ada sekitar 15 pabrik pengolahan biji kakao di Indonesia.

PT Davomas Abadi Tbk (DAVO), yang didirikan pada tahun 1990, adalah salah satu perintis usaha pengolahan biji kakao di Indonesia. DAVO mengolah biji kakao menjadi cocoa butter, bahan baku utama pembuatan coklat, dan juga cocoa powder yang memberikan rasa coklat pada berbagai produk makanan.

DAVO memulai produksi pada tahun 1991 dengan kapasitas produksi hanya 20.000 ton per tahun. Setelah go-public tahun 1994, DAVO terus melakukan penambahan lini produksi untuk memenuhi permintaan pasar global yang meningkat. Pada tahun 1995 DAVO mengembangkan kapasitas menjadi 40.000 ton, lalu menjadi 60.000 ton pada tahun 1996, dan selanjutnya meningkat lagi menjadi 100.000 ton pada tahun 2006. Kini kapasitas produksi DAVO sudah mencapai sekitar 140.000 ton tiap tahunnya dengan sembilan lini produksi. Seluruh produksi DAVO terpusat di lokasi sebuah terpadu seluas 3,8 hektar di Tangerang, Jawa Barat,.

Saat ini DAVO adalah eksportir terbesar produk olahan kokoa di Indonesia yang mengolah sekitar 25 persen dari total produksi biji kakao nasional. Dengan seluruh hasil produksi DAVO ditujukan untuk pasar ekspor, terutama ke Amerika Serikat dan Eropa, dimana demand global masih lebih tinggi daripada supply yang tersedia, sekilas sepertinya tidak banyak tantangan bagi DAVO untuk terus tumbuh, selain melakukan apa yang sudah mereka lakukan selama ini, yaitu meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah lini produksi. Namun kami melihat ada beberapa isu potensial dalam perkembangan DAVO.

Pertama, dari sisi supply bahan baku. Dengan sekitar 86 persen biji kakao dihasilkan oleh perkebunan kecil, tantangan besar bagi DAVO adalah memastikan konsistensi pasokan, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Untuk mengatasi ini, DAVO pernah menyatakan niat melakukan ekspansi ke hulu dengan mengelola perkebunan kakao sendiri. Ini diharapkan dapat menjaga pasokan bahan baku bagi produksi perusahaan. Namun, sepertinya hal ini belum terwujud sampai sekarang.

Permasalahan kedua adalah mengenai output. Kakao Indonesia memang dikenal tidak memiliki kualitas yang cukup tinggi dibandingkan dengan hasil dari negara lainnya. Ini juga menyebabkan harga jualnya produk olahannya pun tidak bisa terlalu tinggi, sehingga margin yang dapat diambil menjadi terbatas.

Salah satu langkah positif yang dilakukan DAVO untuk meningkatkan pendapatan perusahaan adalah dengan mengembangkan lini produksi baru yang menghasilkan mentega kokoa beraroma (deodorized cocoa butter) dan bubuk kokoa beralkali (alkalized cocoa powder). Kedua produk ini adalah hasil pengolahan lanjutan dari mentega kokoa dan bubuk kokoa yang bisa dikatakan berkelas premium, yang tentunya diharapkan membawa margin yang lebih tinggi

Jika DAVO bisa tetap menjaga konsistensi kualitas dan kuantitas supply, serta terus meningkatkan margin dengan menawarkan produk akhir yang dapat memberikan value added lebih besar, maka perusahaan dapat benar-benar menjadi a value-adder in the commodity market.

"Philip Kotler's Executive Class: 75 Days To Go"

Hermawan Kertajaya, Taufik

Kompas

No comments: