Friday, March 6, 2009

[Kompas 100]: BII: "An Important Dot Candidate of A Regional Bank"

Jumat, 6 Maret 2009 | 07:11 WIB

Pernah dengar film Pirates of Silicon Valley?

Ini sebuah film drama televisi tahun 1999 yang dibuat tak lama setelah Steve Jobs kembali ke Apple yang di back-up oleh Bill Gates. Kebetulan film tersebut menggambarkan perjalanan dua legenda industri ICT dunia, sejak dari nobody sampai jadi somebody. Hanya saja, yang lebih banyak mewarnai film tersebut adalah Steve Jobs.

Perjalanan hidup Steve Jobs memang menarik sebagai sebuah film. Meski tidak digambarkan dalam film tersebut, ia adalah anak yang oleh ibu biologisnya –mahasiswi yang hamil di luar nikah– ingin agar diadopsi oleh orang tua lain yang belum punya anak tapi lulusan universitas. Singkat cerita itu tidak tercapai dan Steve Jobs sendiri bahkan kemudian drop out dari Reed College.

Film ini sendiri dibuka dengan adegan persiapan Steve Jobs dalam pembuatan iklan Mac yang legendaris di tahun 1984 dan tak lama kemudian ada adegan demonstrasi penuh kekerasan di kampus University of California, Berkeley di tahun 70-an dimana Steve Jobs juga ikut. Ini adalah sebuah pengkontrasan yang menarik, mengingat gambaran orang yang revolusioner selalu dikaitkan dengan demonstrasi yang sebetulnya jarang sekali menghasilkan tokoh yang akhirnya mengubah sejarah. Sementara itu, bersama mahasiswa UC Berkeley bernama Steve Wozniak, Steve Jobs mengubah sejarah manusia.

Sayangnya, beda dengan Bill Gates, ia adalah orang yang terlambat matang. Sukses yang datang begitu cepat membuat dia sulit mengendalikan diri. Ibu dari anak biologisnya yang pertama meninggalkan Jobs setelah tidak tahan lagi dengan perlakuannya. Dan yang lebih parah lagi adalah ketika ia ditendang dari perusahaan yang dibuat dan dibangunnya menjadi sebuah perusahaan ICT terkemuka. Pada saat yang bersamaan, Bill Gates yang tadinya sempat dianggap remeh, pelan tapi pasti terus menjadi pengendali dalam membangun Microsoft sebagai perusahaan ICT raksasa.

Yang menarik adalah bahwa ia berhasil menjadikan kedua peristiwa tersebut sebagai sebuah pelajaran berharga. Istilah dia sendiri, seperti yang dikemukakan ketika Jobs –seorang drop out– memberikan pidato wisuda di Stanford University, kedua peristiwa tersebut adalah ”dots” dalam perjalanan hidupnya yang membuat dia akhirnya lebih matang dan berhasil comeback ke Apple dengan sukses. Menurutnya, yang namanya connecting the dots itu hanya bisa dilakukan untuk menggambarkan berbagai milestones di masa lalu yang akhirnya bisa membentuk seseorang di masa kini.

Bisa jadi PT Bank International Indonesia Tbk (BNII) adalah salah satu dot dari Maybank Malaysia, yang tahun lalu mengakuisisinya dengan harga yang disebut-sebut kemahalan. Ini ditambah anggapan bahwa bank negeri jiran yang kini sudah hadir di 14 negara itu seperti kepepet untuk memiliki satu-satunya bank dengan ukuran cukup besar yang dipasangi stiker on sale. Kami yakin Maybank, yang sebetulnya dulu pernah punya joint venture bank di Indonesia, tentu sudah mengenal cukup baik peta perbankan Indonesia termasuk BNII itu sendiri.

Boleh jadi tak banyak yang ingat kalau BNII adalah bank pertama di Indonesia yang memperkenalkan perbankan elektronik dan cash deposit machine (CDM) sehingga kuat di jaringan elektronik. Hanya saja, dalam perkembangannya BNII memang tidak seagresif bank-bank lain dalam meningkatkan kapasitas jaringan elektronik yang menyebabkannya tidak bisa me-leverage posisi sebagai yang pertama melakukannya. Dan, berbagai kasus mengenai pionir-pionir yang sukses menunjukkan adanya ketekunan untuk selalu memimpin proses pembaruan dari produk yang dirintisnya.

Meskipun demikian, BNII tetap termasuk sebagai salah satu bank besar dengan jaringan distribusi pelayanan yang signifikan, seperti 20.000 jaringan ATM di bawah ATM PRIMA, ATM BERSAMA, ALTO, CIRRUS dan DBS/POSB Bank Singapura selain kantor cabang, phone banking dan internet banking. BNII juga aktif di sektor UKM/Komersial, Konsumer dan Korporasi. Dan itu didukung dengan produk untuk individu seperti kartu kredit, KPR, deposito, pinjaman dan layanan perbankan prioritas serta produk-produk yang ditujukan bagi nasabah korporasi seperti trade finance, cash management, pinjaman, kustodian dan foreign exchange.

Pendek kata, apa yang sudah dibangun BNII akan membuat Maybank bisa lebih fokus untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi di area dimana BNII belum begitu kuat seperti misalnya perbankan syariah dan remittance. Kalau proses ini bisa dilakukan dengan jangka waktu yang singkat, bisa jadi Maybank tidak butuh waktu lama untuk meng-connect the dots yang membuatnya menjadi a regional bank yang diperhitungkan, dimana BNII adalah dot terpentingnya.

"Philip Kotler's Executive Class: 82 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

No comments: