Wednesday, March 4, 2009

[Kompas 100]: Berlian Laju Tanker: "A Leading Tanker Operator in the World"

Bagian 23 dari 100

Rabu, 4 Maret 2009 | 06:53 WIB

Dulu Britannia Rules the Waves punya diferensiasi yang kuat.

Armada kapal perang Inggris memang sangat ditakuti lawan baik di dunia nyata maupun film. Di dunia nyata, ada Laksamana Nelson yang diabadaikan melalui patung di Trafalgar Square. Sementara di film, selalu ditampilkan Inggris pada abad 18 atau 19 yang digambarkan dalam 2 versi: sebagai jagoan, seperti Kapten Jack Aubrey –diperankan Russell Crowe– dalam film Master and Commander: The Far Side of the World; atau sebagai pecundang, seperti dalam trilogi Pirates of the Caribbean.

Yang menarik, antara Laksamana Nelson di dunia nyata dan Jack Aubrey di film ada titik persinggungan dalam hal perang dengan Napoleon –penguasa Perancis yang legendaris– dan lautan yang ditaklukkan. Untuk perang dengan Napoleon, Nelson akhirnya meninggal di Perang Trafalgar, sementara Aubrey mengalahkan kapal Acheron milik Perancis yang jauh lebih besar dan punya senjata lebih bagus. Untuk lautan yang ditaklukkan, keduanya punya kemiripan, yaitu menaklukkan lautan yang ganas dan jauh dari negeri asalnya.

Yang namanya menaklukkan lautan yang ganas dan jauh dari negeri asalnya memang bukan hal mudah di jaman dulu dan sekarang. Jaman dulu dan sekarang besarnya armada dan kecanggihan kapal yang dimiliki menjadi necessary conditions-nya. Tapi kalau sudah masuk ke satisfying high quality customers, ini menyangkut kombinasi antara operational excellence, track record, jangkauan layanan serta keberadaan di semua rute pelayaran dunia.

Kondisi yang berat tersebut bisa dipenuhi oleh PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) dan kini perusahaan ini bahkan dikenal sebagai a leading tanker operator in the world. Didirikan di tahun 1981 sebagai pemain domestik tanker minyak Pertamina, BLTA kemudian berkembang ke tanker untuk bahan-bahan kimia dan gas. BLTA bukan hanya berkembang dalam hal jenis produk, tapi juga dalam jangkauan pasar, jaringan pemasaran dan tentu saja armada tanker-nya.

Ini semua diperlukan karena seiring dengan berjalannya waktu, BLTA bukan hanya bergantung pada Pertamina tapi bahkan mampu menjadi pilihan perusahaan minyak dan kimia terkemuka dunia, seperti Exxon Mobil, Shell, BASF, SABIC dan Dow Chemical. Kemampuan tersebut semakin kuat setelah BLTA mengakuisisi operator tanker lainnya, termasuk Chembulk Tankers LLC dari Amerika Serikat di tahun 2007. Selain Chembulk Tankers, BLTA juga memiliki Asean Maritime Corporation yang diambil alih pada tahun 1998, beserta anak perusahaannya Gold Bridge Shipping Corporation.

Selain melalui akuisisi, BLTA juga meningkatkan jaringan di seluruh dunia dengan pendirian anak perusahaan, antara lain: GBLT UK Shipmanagement (UK) di Glasgow, GBLT Shipmanagement Pte Ltd di Singapore, dan Gold Bridge Shipping Ltd di Hongkong. Untuk mendukung jaringannya itu, BLTA juga memiliki presence di Bangkok, Shanghai, Beijing, Behai, Mumbai, Dubai, Westport, dan Sao Paolo. Sehingga pada saat ini, BLTA punya armada tanker besar dan jumlahnya banyak serta end-to-end operation, termasuk dalam menghadapi ketatnya regulasi di berbagai penjuru dunia terkait dengan bisnis tanker operator.

Dengan jaringan yang luas ini, tidak heran kalau komposisi pelanggan BLTA tersebar diseluruh dunia, tanpa ada satu pelanggan yang menyumbang lebih dari 5 persen penerimaan perusahaan, kecuali Pertamina sebesar 6 persen. Walaupun perusahaan ini mendapatkan 90 persen penghasilannya dari luar negeri, tapi sepertinya potensi perkembangan di Indonesia juga menjadi target ke depan bagi BLTA, ini seiring dengan undang-undang yang mewajibkan penggunaan kapal berbendera Indonesia untuk mengangkut muatan antar pelabuhan di Indonesia. Dengan kondisi Pertamina yang saat ini masih menggunakan operator berbendera asing pada 70 persen dari kapal yang mereka sewa, BLTA melihat potensi pertumbuhan yang signifikan dari pasar nasional ini.

Harus diakui, kunci sukses perkembangan BLTA, yang dual listing di BEI dan bursa Singapura di tahun 2006, bukan hanya terletak pada reputasi yang bagus dalam safety dan reliability dan ketersedian armada tanker, tapi juga dalam hal competitive prices. Dan kami melihat hal tersebut terakhir sebagai sebuah tantangan bagi BLTA, terutama setelah krisis finansial yang terjadi di dunia akan memaksa BLTA untuk mengurangi margin-nya agar tetap competitive.

Namun luasnya jaringan kerja dan juga diversifikasi perusahaan yang antara mencakup kimia cair, minyak mentah, BBM, dan gas cair, dapat menjadi salah satu keunggulan BLTA dalam menghadapi krisis finansial kali ini. Andalan lain BLTA dalam meningkatkan competitiveness-nya adalah variasi kapal yang dioperasikan oleh perusahaan. Dengan ukuran kapasitas kapal dari 1.250 DWT hingga 150.000 DWT, dan jenis kapal yang dapat mengangkut muatan cair dari berbagai jenis, BLTA mampu memberikan total solution bagi pelanggannya.

BLTA sendiri sepertinya cukup optimistis dalam menghadapi krisis finansial kali ini. Bahkan Widihardja Tanudjaja, Presiden Direktur dari BLTA, yakin bahwa krisis kali ini adalah saat yang tepat untuk meningkatkan kekuatan dan terus tumbuh. Ini didasari pengalaman masa lalunya dimana pertumbuhan setelah krisis justru adalah periode pertumbuhan BLTA yang paling cepat.


"Philip Kotler's Executive Class: 84 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

No comments: