Tuesday, March 24, 2009

[Kompas 100]: Apexindo Pratama Duta: "A Challenger in One of the World's Risky Businesses"

Selasa, 24 Maret 2009 | 07:02 WIB

Apa inspirasi yang bisa didapat dari Prof Padmosantjojo?
Keterbatasan teknologi dan fasilitas semestinya tidak menjadi penghalang untuk menjadi pemain yang disegani di dunia internasional. Dengan teknologi dan fasilitas terbatas, Prof Padmosantjojo bisa memimpin proses pemisahan kembar siam dempet kepala dengan sukses dan pasiennya kini hidup dengan normal di Tanjung Pinang, Riau. Prinsip seperti itu dipahami benar oleh PT Apexindo Pratama Duta, Tbk (APEX).

Sebagai perusahaan nasional penyedia jasa pengeboran oil and gas yang terbesar di Indonesia, tidak berarti APEX dapat dengan mudah bergerak dalam industri ini. Selain bersaing dengan PT Elnusa Tbk, APEX, dengan kompetensi utama di bidang jasa kontrak rig pengeboran minyak lepas pantai, bersaingan langsung dengan Global Santa Fe Corporation dan juga Transocean, raksasa internasional yang sudah bergerak di bidang ini sejak tahun 1970-an , bahkan keduanya baru saja melakukan merger di akhir 2007. Belum lagi persaingan dari penyedia jasa oilfield services seperti Halliburton dan Schlumberger, yang oleh majalah BusinessWeek sempat disebut sebagai The Stealth Oil Giant yang bahkan ditakuti perusahaan-perusahaan minyak besar dunia.

APEX didirikan pada tahun 1984 sebagai anak perusahaan dari PT Medco Energi Internasional Tbk yang bergerak dalam jasa layanan pengeboran lepas pantai. Selanjutnya, setelah merger dengan PT Medco Antareja, kontraktor pengeboran darat yang juga dimiliki oleh Medco, pada tahun 2001, APEX memperluas lingkup kerjanya untuk menawarkan pula onshore services. Untuk itu, semenjak membangun offshore rig pertamanya pada tahun 1992, APEX terus berkembang hingga kini perusahaan memiliki 8 rig darat, 6 rig lepas pantai plus 1 rig super premium yang baru. Namun hingga kini bisnis APEX terbesar tetap berada dalam penyewaan dan operasional offshore rig.

Pada akhir 2008, PT Mitra Rajasa, Tbk melakukan akuisisi mayoritas saham APEX, yang sebagian besar beli dari pihak Medco. Sehingga, kini Mitra Rajasa memiliki sekitar 98% dari APEX. Inilah yang akhirnya mengharuskan perusahaan untuk memulai proses de-listing dari Bursa Efek Indonesia, karena adanya aturan chain listing yang melarang perusahaan terbuka untuk memberikan kontribusi lebih dari 50 persen pendapatan perusahaan induknya. Perlu dicatat bahwa pelepasan APEX oleh Medco lebih disebabkan karena keinginan Medco untuk fokus pada industri produksi minyak, bukan karena permasalahan kinerja APEX.

Dalam bersaing dengan raksasa internasional, tentunya APEX pertama-tama harus dapat memenuhi tuntutan persyaratan dari perusahaan klien – yang sebagian besar juga merupakan perusahaan manca negara – yang sangat ketat. Sebagaimana diketahui, perusahaan minyak multinasional pada umumnya sangat concern terhadap kesehatan dan keselamatan (Health and Safety) kerja dari pegawainya. Ini sebagian tentunya karena mereka juga terikat aturan hukum negara di mana mereka didirikan.

Dengan beberapa kali mendapatkan pengakuan dari beberapa kliennya akan tingginya tingkat keselamatan dan kesehatan kerja yang mampu dipertahankan oleh APEX, tampaknya mereka memang memberikan perhatian tinggi terhadap masalah Health and Safety ini. Sehingga tidak heran jika APEX berhasil mendapatkan kontrak kerja dari berberapa perusahaan multinasional ternama dunia, antara lain Chevron, Total E&P Indonesie, Santos dan Crescent Petroleum. Bahkan kontrak APEX dengan Crescent Petroleum adalah untuk penggarapan sumur minyak di luar Indonesia, tepatnya di UAE dan Oman.

Kemampuan menjaga standarisasi kerja, dan tentunya juga disertai harga yang lebih kompetitif dibandingkan pesaing internasional-nya inilah yang menjadi kekuatan APEX. Jika APEX bisa menjaga kinerja ini ke depan, dan menjadi salah satu kontraktor andalan perusahaan perusahaan minyak raksasa dunia, termasuk –seperti sudah mulai dilakukannya— melakukan ekspansi ke luar Indonesia, tidak mustahil APEX dapat menjadi salah satu oil services company yang di segani di Asia.

"Philip Kotler's Executive Class: 64 Days To Go"

Hermawan Kartajaya, Taufik

Kompas

No comments: