Thursday, February 19, 2009

PELEMAHAN RUPIAH: Mahalnya Ongkos Menahan Rupiah

Kamis, 19 Februari 2009 | 09:45

JAKARTA. Sepanjang Februari 2009, rupiah benar-benar tak berdaya. Rabu (18/2) pukul 20.45 WIB, rupiah tumbang ke level Rp 12.075 per dolar Amerika Serikat (AS). Gerakan rupiah juga liar.

Kepala Tresuri BNI Rosady T. A. Montol bilang, bukan rupiah saja yang loyo, tapi hampir semua mata uang selain dolar AS. Mata uang hijau ini kian perkasa setelah Presiden Barack Obama menandatangani stimulus fiskal, Selasa (17/2). Ini akan mendorong investor berburu dolar dan membeli obligasi pemerintah AS.

Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono menambahkan, faktor kedua penyebab lemahnya rupiah bulan ini adalah penurunan BI Rate sebesar 0,5%. "Penurunan itu bagus, cuma waktunya tidak tepat, karena rupiah sudah berada Rp 11.700," jelasnya, kemarin.

Kedua analis ini pun melihat angka Rp 12.000 sebagai batas psikologis baru rupiah. Artinya, dalam jangka pendek ini, rupiah masih akan tertekan di sekitar angka itu.

Biaya mengerem rupiah

Nasib rupiah di semester satu ini agaknya memang suram. Satu-satunya bekal rupiah menguat adalah bantuan Bank Indonesia (BI) untuk mengguyur dolar ke pasar.

Masalahnya, Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa melihat sikap BI yang kurang aktif mengintervensi pasar. "Mestinya dalam kondisi begini BI harus lebih banyak intervensi," sesal Purbaya.
Masalahnya, ongkos BI untuk meredam tekanan jual rupiah itu mahal. Cadangan devisa makin menipis. Per 30 Januari 2008, brankas devisa tersisa US$ 50,87 miliar. "BI beralasan dana segitu merupakan batas aman psikologis pasar," ujar Yudhi.

Tony juga melihat BI terlalu berhati-hati dalam mengamankan rupiah. Tapi ia sependapat dengan BI, cadangan devisa di bawah US$ 50 miliar akan berefek negatif bagi pasar. "Teorinya, cadangan devisa yang aman itu setara empat bulan impor. Saat ini, cadangan devisa cukup untuk 4,5 bulan impor," jelasnya.

Nilai cadangan devisa itu sudah turun banyak. Juli 2008, cadangan devisa masih sekitar US$ 57 miliar. Artinya, dalam enam bulan, devisa negara amblas US$ 6 miliar.

Kalau dirata-rata, ongkos menahan rupiah US$ 1 miliar per bulan. Cuma, di September 2008, cadangan devisa deras mengucur keluar untuk menutup minggatnya dana asing saat Lehman Brothers bangkrut. "Jumlahnya bisa US$ 3 miliar-US$ 4 miliar. Jadi, kemungkinan, intervensi BI di bulan-bulan kemarin hanya ratusan juta dolar saja," terang Tony.

Masalahnya, kita tak bisa berharap cadangan devisa bertambah subur tahun ini. Bukan cuma ekspor melorot, dana asing yang masuk pun terbatas akibat krisis.

Tony masih berharap rupiah menguat ke bawah Rp 11.000 di semester dua. "Dengan syarat ada capital inflow." Ia juga menyarankan pemerintah menambah fasilitas swap dengan negara lain atau mencari stand by loan bilateral untuk menambal dompet devisa itu.

Rika Theo, Badrut Tamam KONTAN

- Muhammad Idham Azhari

No comments: