Thursday, February 12, 2009

[Kompas 100]: Suryainti Permata: A Low-Profile King of "Ruko"

Kamis, 12 Februari 2009 | 07:08 WIB

Lima tahun yang lalu, majalah bisnis bulanan SWA pernah menulis liputan menarik mengenai raja-raja bisnis Surabaya yang low profile, bukan hanya di tingkat nasional tapi bahkan di kota mereka sendiri. Gaya low profile para raja bisnis itu bukan hanya terbatas pada gaya pakaian, gedung dan lokasi kantor, tapi juga, misalnya, ketika naik pesawat. Ada raja bisnis yang bisa membeli hotel di negara tetangga dengan uang tunai, tapi naik pesawat selalu duduk di kelas ekonomi dan sering membawa tas plastik.

Dengan gaya yang low profile, maka susah bagi orang luar Surabaya untuk gampang mengenali mereka. Boleh jadi banyak orang Surabaya yang juga tidak mengenali raja bisnis yang suka naik pesawat kelas ekonomi itu. Maklum sebagian para raja bisnis itu memang dikenal sebagai raja bisnis di lingkungan terbatas.

Salah satu raja bisnis yang low profile itu adalah Henry J. Gunawan, yang bangga disebut sebagai "tokoh Tionghoa yang nasionalis" dan saat ini juga duduk sebagai Ketua Umum Persatuan Anggar dan REI Jawa Timur. PT. Suryainti Permata Tbk. (SIIP), yang didirikannya di tahun 1992, mendapat julukan sebagai Raja Ruko dari Surabaya. Maklum SIIP bukan hanya sekedar membangun banyak ruko tapi sekaligus menjadi ruko yang banyak dikenal luas di Surabaya.

Positioning seperti itu, tentu akan memudahkan SIIP kalau akan ekspansi ke wilayah lain. SIIP bisa menggunakan deretan pencapaiannya di kota kedua terbesar di Indonesia untuk meyakinkan calon pembeli atau mungkin potential partner. Meskipun demikian, kami melihat bahwa positioning semacam itu bisa tidak terlihat nyata ketika business landscape berubah, seperti saat resesi ekonomi dunia yang dampaknya mulai terasa di Indonesia.

Kalau dilihat dari perjalanan bisnisnya, SIIP tidak ragu untuk melakukan repositioning ketika business landscape berubah. Prinsip market-centric ini berhasil membawa pengembang ini dari sekedar penjual tanah di awal awal tahun pendiriannya, hingga kini menjadi salah satu pengembang yang diperhitungkan di Surabaya. Harus diakui, langkah go-public yang dilakukan pada tahun 1997 punya peran memacu SIIP untuk menciptakan positioning yang relevan dengan business landscape yang dihadapi.

Di sisi lain, yang namanya repositioning tidak gampang dilakukan semudah membalik tangan. Pengalaman kami menunjukkan ketika positioning suatu perusahaan tidak dikenal luas, repositioning jadi gampang dilakukan. Tapi kalau positioning suatu perusahaan terlanjur banyak dikenal, prosesnya menjadi lebih rumit.

Inilah tantangan ke depan yang kami lihat bakal dihadapi SIIP. Sebagai perusahaan public, mau tak mau SIIP harus bisa menunjukkan bahwa mereka memiliki marketing fundamental yang memungkinkan pemanfaatan peluang baru. Bisa jadi positioning sebagai raja ruko akan sangat menguntungkan untuk masuk ke daerah yang dilanda boom harga komoditas, seperti yang terjadi di tahun lalu.

Tapi dengan harga komoditas yang bergejolak dan relatif masih sedikitnya daerah yang sukses dalam pelaksanaan otonomi daerah, bisa jadi Surabaya tetap tempat terbaik bagi SIIP. Seiring dengan evolusi Surabaya menjadi metropolitan, yang ditandai dengan munculnya berbagai mall dan office building baru yang megah, mau tak mau SIIP pun mesti menanggapi perubahan ini. Inilah yang sedang dilakukannya dengan mengembangkan beberapa proyek premium di Surabaya, seperti dua perumahan di wilayah pemukiman kelas atas, dan juga pembangunan kondominium premium di Surabaya Barat, di samping membangun future flagship product di sekitar Bandara Juanda Surabaya

Tentu ini akan berjalan mulus kalau SIIP bisa berevolusi menjadi pengembang properti premium. Imagenya sebagai "raja ruko", walau mampu mengangkat brand equity di kalangan pembeli dan investor kelas menengah, dapat menjadi bumerang saat SIIP mencoba memasuki pasar premium. Maklum positioning bukan hanya sekedar tagline tapi juga capacity to deliver.

Dengan memiliki positioning yang memiliki cakupan yang lebih luas tapi tetap sangat jelas, SIIP akan dengan mudah menunjukkan seberapa tinggi marketing fundamental yang dimilikinya

"Philip Kotler's Executive Class: 100 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

No comments: