Friday, February 20, 2009

[Kompas 100]: Panorama: "A Builder of Integrated Travel and Tourism Business"

Bagian 10 dari 100

Jumat, 20 Februari 2009 | 07:18 WIB

Tahukah Anda banyak bisnis yang sukses dan berskala besar bermula dari hobi?
Anda mungkin familiar dengan sejumlah orang yang melukis untuk mengisi waktu luang, kemudian mulai menjual lukisannya.

Begitu juga dengan cerita orang-orang yang hobi masak-memasak dan sering mengundang orang menikmati hidangannya bisa berhasil mendirikan restoran yang laris. Lalu tentang orang-orang yang gemar jadi panitia berbagai event kemudian mendirikan perusahaan event organizer terkenal.

Tapi karena yang namanya hobi itu tidak terbatas, maka tidak terbatas pula skala bisnis yang bisa dibuat. Di Amerika ada orang yang hobi membuat model pesawat dan kemudian mendirikan perusahaan designer model pesawat yang dilengkapi dengan para insinyur penerbangan. Di Australia ada orang yang gemar meracik berbagai macam bir dan kemudian mendirikan perusahaan pembuat bir independen terbesar di Australia.

Kisah serupa ternyata juga terjadi di industri parawisata Indonesia, seperti yang dialami Adhi Tirtawisata, mantan lawyer yang pada saat ini dikenal sebagai salah satu icon di industri ini. Awalnya dimulai dengan kegemaran Adhi dalam membantu orang untuk berwisata. Dan karena sudah hobi, maka meski harus mengurus sendiri dari tiket hingga sopir, semua dijalankan dengan ringan.

Yang menjadi tantangan bagi Adhi adalah ketika ia menjalankan bisnis berbasis hobi ini di tahun 60-an, dimana alat komunikasi yang tersedia sangat terbatas. Ini berbeda dengan jaman sekarang, keberadaan Internet membuat orang yang ingin mengubah hobi yang digemarinya menjadi bisnis mampu menjangkau pasar global dengan relatif lebih mudah. Karena itu, setelah mengalami kegagalan dalam mengelola sendiri bisnisnya, Adhi akhirnya memutuskan untuk bekerja bagi orang lain, agar masih bisa berbisnis di bidang yang masih merupakan hobi-nya.

Karena memang sudah bertekad membangun bisnis dari hobi, Adhi menjadikan waktu bekerja di perusahaan lain sebagai kesempatan belajar mengelola sebuah bisnis travel. Dan ini bukan sekedar dalam hal urusan rutin operasional, tapi juga bagaimana mengembangkan bisnis travel. Sehingga, ketika akhirnya punya kesempatan lagi, Adhi tidak ragu untuk mendirikan cikal bakal PT Panorama Sentrawista Tbk (PANR) di tahun 1972.

Bermula dari sekedar menjual tiket pesawat terbang, saat ini bisnis PANR sudah berkembang pesat, lebih dari sekedar inbound dan outbound businesses. Inbound business-nya bukan hanya menjadi layanan end-to-end bagi turis mancanegara, namun pelan tapi pasti membuat PANR memiliki pilar bisnis tambahan, yaitu transportasi. Di bisnis transportasi ini PANR punya merek-merek bus wisata yang dikenal luas seperti White Horse atau Gray Line yang banyak membawa rombongan turis mancanegara.

Meski sudah berhasil mengembangkan pilar bisnis seperti transportasi dan belakangan ini MICE, tidak berarti langkah pengembangan PANR terhenti. Misalnya, dalam pengembangan jaringan pelayanan, selain melakukannya sendiri dibawah nama Panorama Tours, PANR juga membangun jaringan pelayanan dengan sistem franchise dengan nama Panorama World. Hal tersebut terakhir ini secara tidak langsung menunjukkan kekuatan merek Panorama.

Keberanian sejumlah investor untuk mengambil franchise Panorama World bisa jadi didasari oleh sejumlah alasan berikut: asosiasi PANR sebagai sebuah perusahaan terintegrasi dalam travel and tourism yang membidik segmen kelas atas baik inbound maupun outbound, punya track record bagus dalam hal jumlah turis dari luar yang berhasil didatangkan, serta punya layanan corporate travel management domestik dan internasional yang dijadikan pilihan banyak perusahaan yang rutin mengirimkan karyawan berprestasi untuk berwisata.

Belum lagi adanya aliansi dengan pemain bereputasi di pasar internasional seperti Carlson Wagonlit Travel Worldwide dan Chan Brothers Travel Singapore yang bisa menjadi indikator lain kekuatan merek PANR. Nama Adhi Tirtawisata yang tahun 2008 mendapatkan The Lifetime Entrepreneur of the Year dari Ernst & Young, dan juga dikenal sebagai pelopor inbound business sekaligus icon industri pariwisata Indonesia, juga bisa menjadi alasan yang kuat bagi para investor franchise Panorama World.

Meskipun demikian, kami mengidentifikasi potensi ancaman yang bisa menjadi penghambat langkah PANR di masa datang. Ekspansi yang dilakukan PANR untuk memastikan layanan terintegrasi berkualitas tinggi, terutama di bidang-bidang yang sebenaranya bisa dilakukan pihak lain dengan kualitas tinggi tapi lebih murah, akan mengurangi efektivitas layanan terintegrasi tersebut. Inilah yang menjadi tantangan bagi perusahaan yang memberikan layanan terintegrasi, bagaimana tahu kapan untuk make or buy.

Selain menjadi builder of integrated travel and tourism, PANR juga dikenal inovatif dalam memperluas pasar. Kalau produknya selama ini fit untuk segmen kelas atas, PANR kini mulai mengembangkan budget traveling products. Bila ini berjalan dengan baik, bukan tak mungkin kalau PANR akan dikenal sebagai an integrated and comprehensive travel and tourism company.

"Philip Kotler's Executive Class: 96 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

No comments: