Wednesday, February 25, 2009

[Kompas 100]: Bhakti Investama: "A Catalyst to the Progression of Investment Companies in Indonesia"

Rabu, 25 Februari 2009 | 07:05 WIB

Perusahaan kecil mengakuisisi perusahaan besar seperti Porsche mengakuisisi VW tidak terjadi setiap hari. Yang lebih hebat lagi, proses itu terjadi ketika VW yang lebih besar itu tidak dalam kondisi sakit. Bagaimana ini bisa terjadi? Sebuah jendela yang terbuka satu kali di pasar modal Jerman.

Bagaimana tidak, soalnya tidak ada yang memperhatikan ketika pelan tapi pasti, Porsche, yang dari segi produksi jauh lebih kecil dibandingkan VW, tapi kaya uang, maklum merupakan perusahaan mobil dengan profit margin tinggi, mengumpulkan saham VW. Jangankan regulator, wartawan, fund manager, dan analis saham yang meng-cover sektor otomotif di bursa saham Frankfurt pun luput memperhatikan proses tersebut. Tahu-tahu seperti ada blitzkrieg dan Porsche ibarat mencetak gol di final terbaik Piala Dunia.

Memang yang terjadi pada Porsche-VW sungguh dramatis. Apalagi di balik proses tersebut ada romantisme hubungan antara kedua perusahaan ini, dimana pendiri Porsche adalah chief designer mobil Volkswagen Beetle yang melegenda hingga kini. Sehingga akusisi tersebut bagi keluarga pemilik Porsche seolah seperti mengembalikan VW ke tangan mereka.

Tapi tidak semua peristiwa perusahaan kecil yang mengakuisisi perusahaan besar terjadi dalam proses yang dramatis. Bahkan banyak orang malah tidak memperhatikan bahwa sebuah perusahaan diakuisisi perusahaan kecil. Apalagi kalau perusahaan kecil itu memang mampu menjelma menjadi sebuah perusahaan yang besarnya tidak berbeda jauh dengan perusahaan besar yang diakuisisi.

Inilah yang dilakukan oleh Bhakti Investama (BHIT). Didirikan di tahun 1989 sebagai sebuah perusahaan sekuritas di Surabaya, dalam kurun waktu lima tahun saja, BHIT dibawah kendali Harry Tanoesoedibyo telah menjelma menjadi salah satu perusahaan sekuritas utama Indonesia dengan aktivitas pasar modal yang luas. Hanya saja, krisis yang terjadi di tahun 1997-1998 mengancam kelangsungan usaha BHIT yang go public di tahun 1997.

Saat itu, tangan dingin Harry Tanoe bukan hanya sekedar menyelamatkan BHIT, tapi bahkan membuatnya menjadi lebih besar. BHIT yang semula adalah perusahaan sekuritas, diubahnya menjadi sebuah investment company dimana bisnis sekuritas hanyalah salah satu diantaranya. Yang menarik, proses ini terjadi ketika Indonesia sebetulnya berada di luar radar investasi global, yang tentu saja menciptakan tantangan tersendiri dalam mengumpulkan investor.

Dan Harry Tanoe tidak kekurangan akal. Memang kebanyakan investor global di antara 1997 – 1999 memilih menjauh dari Indonesia, karena dianggap masih dalam masa puncak transisi dari pemerintahan otoriter dan ke pemerintahan demokratis sehingga belum layak sebagai pilihan investasi. Meskipun demikian, tetap ada investor asing yang punya minat untuk masuk ke Indonesia, terutama yang tidak mau waiting for the dust to settle.

Jadi jangan kaget kalau saat anda browsing tentang peristiwa bisnis di akhir tahun 1990-an, anda akan menemukan informasi mengenai investor asing sekelas George Soros yang ingin masuk ke Indonesia. Yang menarik, nama mega investor ini bukan hanya dikaitkan dengan sejumlah perusahaan publik Indonesia yang digosipkan masuk dalam daftar belanjaannya, tapi juga dikabarkan dekat dengan pengendali BHIT, Harry Tanoe. Memang tidak jelas benar apakah yang kemudian dilakukan George Soros di Indonesia hanyalah gosip belaka atau bukan, tapi yang pasti, dengan ketelitian mengumpulkan dana investasi, Harry Tanoe berhasil membawa BHIT masuk Bimantara Citra di tahun 2001 dan kemudian menjadi pengendalinya setahun berikutnya.

BHIT bukan hanya sekedar masuk dan mengendalikan Bimantara Citra, tapi berperan seperti layaknya investment company. Di perusahaan ini, BHIT melakukan restrukturisasi dengan melakukan identifikasi core business assets dan melepas non-core business assets. Dana yang diperoleh dari penjualan non-core business assets ini kemudian digunakan untuk memperkuat core business assets dan membuatnya menjadi sebuah holding company yang kuat.

Apa yang dilakukan BHIT itu kemudian mengilhami banyak perusahaan Indonesia lainnya, baik yang awalnya adalah perusahaan di financial service industry maupun yang bukan, untuk memperdalam dan memperluas perkembangan investment companies di Indonesia. Singkat kata, BHIT adalah katalisator kemajuan investment companies di Indonesia.

"Philip Kotler's Executive Class: 91 Days To Go"

Hermawan Kartajaya,Taufik

Kompas

No comments: