Sunday, February 1, 2009

Bermain Saham Saat Volume Transaksi Tipis

Minggu, 1 Februari 2009 | 00:52 WIB

Adler Haymans Manurung Praktisi Keuangan

Dalam dua minggu terakhir Indeks Harga Saham Bursa Efek Indonesia atau BEI berfluktuasi di sekitar angka 1.300 dan secara statistik stasioner pada angka tersebut sehingga ramalan tetap pada angka tersebut.

Pergerakan stasioner pada level itu juga didukung jumlah transaksi secara nilai (value) dan volume yang sangat tipis, hanya sekitar Rp 1 triliun.

Bila dibandingkan dengan transaksi tahun-tahun sebelumnya, transaksi bursa ini sangat kecil karena sebelumnya transaksi minimum Rp 2,5 triliun.

Situasi bursa yang agak berbeda ini mempunyai persoalan yang harus diamati saksama. Harga saham bisa dinaikkan atau diturunkan sesuai keinginan pemain pasar. Artinya, pemain pasar mendorong harga saham ke atas dengan volume transaksi cukup kecil karena ketakutan atau tidak memerhatikan pasar. Demikian juga sebaliknya, harga didorong ke bawah sehingga jatuh dan kemudian dibeli untuk kepentingan pemain tersebut. Pemain pasar tetap untung dalam permainan tersebut.

Pada sisi lain, BEI volatilitasnya 2%-8% per hari berdasarkan data enam bulan terakhir. Bila digunakan data yang lebih panjang, terjadi volatilitas lebih kecil, tetapi bisa terjadi hanya sampai 4 tahun.

Jika memakai data 5 tahun terakhir, terjadi kenaikan yang mendekati volatilitas 6 bulan terakhir. Informasi memberi arti bahwa investor bisa mendapat keuntungan bila investor memahami pergerakan IHSG tersebut.

Lima langkah

Dalam situasi bursa yang sedikit melemah dalam transaksi, apa yang harus dilakukan investor?

Pertama, investor harus saksama memerhatikan transaksi masing-masing saham. BEI selalu mengeluarkan data jumlah transaksi setiap saham dan investor juga bisa melihat melalui situs internet bursa walaupun sedikit lambat. Dalam situasi bursa demikian masih ada saham tertentu yang transaksinya cukup besar atau memimpin dalam transaksi di bursa. Saham besar kemungkinan agak tipis transaksinya, tetapi saham lapis kedua atau lapis bawah kemungkinan volume dan nilai transaksi mengalami perubahan yang tidak begitu besar sehingga likuiditas sahamnya masih terjamin.

Kedua, perhatikan jarak (sebaran) harga transaksi paling rendah dengan paling tinggi. Bila sesuai dengan batasan yang ditentukan bursa untuk penolakan otomatis atas transaksi, investor harus lebih berhati-hati. Biasanya investor menunggu informasi dalam situasi saat ini. Bila ada informasi terbaru yang membuat bursa (atau saham) meningkat harganya, harga saham tersebut akan bergerak naik.

Ketiga, pelajari transaksi saham-saham tersebut, siapa saja yang bertransaksi pada saham itu. Investor harus mencari tahu broker mana saja yang suka bermain pada saham tersebut. Umumnya, broker tersebut diminta emiten atau pemain pasar untuk menjaga harga saham itu.

Keempat, mencari informasi yang memberi insentif terhadap harga saham. Adakah informasi terbaru sehingga harga saham akan bergerak naik atau informasi tersebut membuat harga saham bahkan jatuh lebih dalam.

Investor juga harus hati-hati dalam mencari informasi ini karena investor bisa mendapat informasi dari orang dalam sehingga investor bertransaksi menggunakan informasi tersebut yang dikenal sebagai insider trading. Bila investor melakukan transaksi ini, akan dianggap melakukan tindak pidana karena melanggar peraturan dan Undang-Undang Pasar Modal.

Kelima, berdiskusi dengan analis dan penjual untuk meningkatkan pengetahuan atas transaksi saham supaya analisis lebih tajam dan lebih baik bermain saham. Investor harus memilih analis karena mereka mempunyai keahlian masing-masing untuk berbagai sektor saham yang ada di bursa. Sebaiknya, analis berdiskusi dengan analis dan penjual yang memahami industri yang ingin dipelajari dan ditransaksikan.

Teknik transaksi

Informasi tersebut memberi investor rekomendasi untuk melakukan teknik transaksi yang layak dengan masuk ke saham-saham yang mempunyai kisaran harga tidak terlalu tinggi. Investor membeli ketika harganya turun dan menjual secepatnya bila harga telah naik dan memberi keuntungan.

Dengan cara itu, investor tetap memiliki dana walaupun biaya untuk pialang yang dibayarkan tinggi. Tindakan ini tidak bisa terus-menerus pada satu saham walaupun ada kemungkinan terjadi harga naik-turun beberapa kali sehingga bisa mendapat keuntungan pada pergerakan harga saham tersebut.

Investor harus melakukan ini pada berbagai saham sehingga dapat mencicipi keuntungan di berbagai saham, seperti orang yang makan di pesta perkawinan yang mencicipi semua makanan yang dihidangkan dalam jumlah sedikit-sedikit.

Berikutnya, investor bisa menggunakan momentum sekarang untuk membeli saham dalam rangka investasi jangka panjang. Namun, sebelumnya investor harus mempunyai informasi cukup akurat dari berbagai sumber.

Bila investor tepat melakukan investasi, ada kemungkinan investor mendapat keuntungan dalam jangka panjang periode investasi tersebut. Hasil yang diperoleh investor bisa beberapa kali lipat dari yang diperoleh dari investasi pada instrumen lain.

Alternatif lain, keluar dari pasar dan menunggu waktu yang tepat untuk membeli, melihat situasi ekonomi dan politik yang mulai bergejolak. Namun, investor tetap harus berjaga-jaga untuk mendapat pergerakan harga saham. Selamat bermain saham di bursa.

Kompas

No comments: