Thursday, January 15, 2009

Krisis Keuangan Global (Artikel 3)

Kamis, 15 Januari 09

Apa Kata Paul Krugman dan Bagaimana Perkembangan Selanjutnya?

Dalam artikel kedua kami mencoba menguraikan tentang struktur ekonomi Indonesia dalam arti apakah relatif kelebiham modal dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja, ataukah relatif kelebihan tenaga kerja dibandingkan dengan modal yang dimilikinya? Tulisan tersebut mendasarkan diri pada teori-teori yang dapat dikelompokkan ke dalam pengenalan terhadap penyebab krisis ekonomi yang dikaitkan dengan struktur perekonomian dalam arti relatif kekurangan modal atau relatif kekurangan tenaga kerja.

Seperti dapat dibaca kembali, dalam tulisan tersebut dikatakan bahwa dalam ekonomi suatu bangsa yang strukturnya relatif kelebihan tenaga kerja, pada umumnya krisis disebabkan oleh overinvestment, sehingga penanggulangannya hanya bisa dilakukan selama hausse atau boom sedang berlangsung. Harus ada pengenalan bahwa ekonomi memanas dan terjadi ketegangan dalam wujud investasi yang jauh lebih besar daripada tabungannya. Kalau krisis sudah terjadi sudah terlambat. Mereka hanya dapat menyaksikannya dengan penuh penderitaan. Paling-paling dapat menggunakan kesempatan selama resesi berlangsung untuk lebih memantapkan diri dalam organisasi ekonominya.

Sebaliknya, negara bangsa yang struktur ekonominya bercirikan relatif kelebihan modal, krisis disebabkan oleh underconsumption. Maka kalau krisis terjadi yang diikuti dengan resesi atau bahkan depresi, konsumsi dan investasi digenjot, yang dinamakan prime pumping. Pendeknya resepnya John Maynard Keynes yang paling tepat.

Saya pernah sangat heran mengapa tidak ada ekonom, terutama di Indonesia yang berbicara tentang teori business cycle dalam menjelaskan resesi ekonomi, dan dari pikiran itu menemukan terapinya yang tepat. Apakah teori-teori business cycle atau conjunctuur sudah mati, sudah kuno, sudah ketinggalan zaman? Dalam bukunya Paul Krugman terakhir yang berjudul “The Return of Depression Economics and The Crisis of 2008”, dia mengatakan memang banyak sekali ekonom terkemuka yang mempunyai anggapan bahwa teori-teori tentang business cycle sudah tidak terlampau relevan lagi, karena mereka merasa bahwa pengetahuan ilmu ekonomi sudah maju, sehingga kita tidak perlu risau terhadap gejolak business cycle.

Krugman sendiri tidak berpendapat demikian. Dia masih percaya bahwa gelombang pasang surutnya ekonomi masih berlaku sepenuhnya. Dia mengemukakan contoh-contohnya, yaitu Amerika Latin di tahun 1980-an, Jepang di tahun 1990, krisis di Asia, termasuk Indonesia yang dimulai di tahun 1997. Namun dia beranggapan bahwa resesi dan depresi selalu bisa ditanggulangi atau diperlunak.

Mari kita kutip pendapatnya tentang business cycle di halaman 9 dari bukunya tersebut sebagai berikut:

“Di tahun 2003, pemenang hadiah Nobel Robert Lucas mengatakan kepada rapat tahunan dari American Economic Association. Lucas tidak mengatakan bahwa business cycle sudah tidak ada. Dia mengatakan bahwa business cycle sudah bisa dijinakkan, sehingga kita tidak perlu khawatir lagi. Maka fokus kita lebih baik diarahkan pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ben Bernanke (yang sekarang Gubernur Bank Sentral AS) di tahun 2004 mengatakan bahwa kebijakan ekonomi makro telah berhasil mengendalikan business cycle, sehingga pencuatannya hanya merupakan gangguan kecil saja, bukan isu utama.

Krugman berkomentar bahwa krisis-krisis belakangan ini sangat mirip dengan depresi tahun 1930, sehingga pernyataan-pernyataan yang optimistik seperi yang dikemukakan oleh Robert Lucas dan Ben Bernanke terasa sangat picik.

Toh Krugamn tidak terlampau pesimistik tentang prospek akan dapat ditanggulanginya krisis dan resesi yang sedang berlangsung. Dia tidak menjelaskan mengapa. Saya sendiri menduga keras bahwa dalam zaman globalisasi ini faktor produksi yang paling mobile adalah uang atau modal. Maka tidak ada kekurangan modal relatif dibandingkan dengan tenaga kerja atau kekurangan tenaga kerja relatif dibandingkan dengan modal yang sifatnya struktural.

Yang ada ialah dalam satu negara dan dalam kurun waktu tertentu investasi lebih besar dibandingkan modal yang tersedia untuk kredit investasi, baik yang domestik maupun asing, bukan tabungan nasional oleh rakyatnya sendiri. Perbandingan inilah yang menandai ekonomi dalam kondisi hausse atau baisse.

Maka kalau semua negara mengalami kelangkaan modal seperti sekarang ini, kita saksikan terjadinya resesi di mana-mana. Sebabnya bukan terbatasnya modal, tetapi karena modal yang ada disimpan atau terjadi hoarding besar-besaran. Seperti kita ketahui, bank yang memberi kredit berarti menciptakan uang giral dan ketika kredit dikembalikan terjadi pemusnahan uang. Maka kita membaca bahwa di mana-mana sedang terjadi pengetatan likuiditas atau liquidity squeeze atau credit squeeze.

Bagaimana prospeknya? Buat kami sangat sulit ditebak. Bahwa resesi atau bahkan depresi seperti apapun hebatnya akan teratasi adalah soal waktu. Bukan hanya kali ini saja dunia mengalami resesi yang diperkirakan akan menjurus pada depresi.

Yang menjadi tantangan buat para pemimpin dunia bukannya itu, tetapi apakah depresi hebat dapat dihindarkan. Para pemimpin negara-negara maju dan kaya nampaknya sudah sepakat akan memompakan uang seperlunya untuk tujuan itu, berapapun jumlahnya. Mereka tidak lagi berbicara dalam hitungan ratusan milyar dollar AS, tetapi trilyunan. Proses menuju pada kesepakatan secara all out menghindarkan diri dari depresi hebat sudah tampak yang akan melibatkan jumlah pemompaan daya beli senilai 4 sampai 5 trilyun dollar AS, yang terutama akan dipompakan oleh pemerintah-pemerintah Amerika Serikat, Eropa dan China.

Bahwa gelombang pasang surutnya ekonomi atau business cycle atau conjunctuur melekat pada sistem mekanisme pasar rasanya tidak terbantahkan. Tetapi hal baru yang sangat menarik adalah keterkaitan antara satu negara dengan negara lainnya, serta sudah sangat banyaknya uang yang terakumulasi dari kemajuan teknologi dan ekonomi yang menciptakan nilai tambah dalam jumlah yang sangat besar.

Tidak terbayangkan bahwa China mempunyai uang dalam bentuk valuta asing sekitar 2 trilyun dollar AS tanpa Taiwan dan Macau, dan mungkin juga tanpa Hong Kong. Sekitar 1 trilyun dollar sudah tertanam dalam US treasury bonds. Seperti yang diberitakan oleh media massa, pemerintah China sedang memikirkan strategi apa yang akan mereka tempuh. Membantu AS atau mengembangkan ekonominya dengan cara memompakan daya beli kepada rakyatnya. Mereka mempertimbangkan memompakan daya beli kepada AS bukan karena cinta, tetapi karena kemakmuran China bagian terbesarnya karena ekspor ke AS dan UE yang sekarang drastis berkurang dan entah sampai kapan akan menyusut terus.

Memompakan daya beli kepada rakyatnya yang berjumlah 1,3 milyar manusia dengan maksud memberantas kemiskinan mempunyai dampak sampingan yang luar biasa besarnya dalam bidang mewujudkan pertumbuhan ekonomi. Rakyat miskin yang dinaikkan pendapatannya dengan sendirinya akan membelanjakan pendapatan yang diperolehnya. Ini mendongkrak permintaan akan barang dan jasa, yang pada gilirannya akan mendongkrak produksi dan menggairahkan industri, perusahaan dagang dan jasa. Kecuali bahwa Investasi mempunyai dampak ganda yang bernama multiplier dan konsumsi mempunyai daya dongkrak yang bernama akselerasi, semua komponen yang mempunyai daya untuk menggerakkan ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi bekerja sepenuhnya, terutama China yang telah membuktikan mempunyai kemampuan besar dalam ekspor neto. Maka dalam persamaan Y = C + I + G + (X – M), semuanya bekerja. C atau Konsumsi digerakkan melalui pemompaan daya beli kepada bagian terbesar dari rakyatnya yang miskin tetapi sangat besar jumlahnya. Untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya yang meningkat disamping memenuhi kebutuhan dunia, perusahaan-perusahaan baru harus didirikan dan perusahaan-perusahaan lama diperluas, yang berarti bahwa I atau Investasi akan meningkat yang melipat gandakan pertumbuhan melalui apa yang dinamakan multiplier effect. Pemerintahnya yang masih menguasai bagian terbesar dari perusahaan-perusahaan akan lebih-lebih lagi mempunyai kemampuan untuk membangun infrastruktur. Ini berarti G atau Government Spending meningkat. Tentang ekspor neto kita tidak perlu berbicara, karena kemampuannya sudah dibuktikan yang membuat China mempunyai cadangan devisa sekitar 2 trilyun dollar AS.

Melihat ini semua kita tidak perlu terlampau pesimistik menghadapi resesi ekonomi dunia. Dalam angka-angka memang lebih dahsyat dibandingkan dengan the great depression tahun 1930, tetapi kemampuan negara-negara dan bangsa-bangsa maju juga sudah luar biasa. Mereka juga sudah mengakumulasi daya beli yang luar biasa besarnya untuk melakukan yang dinamakan prime pumping guna mewujudkan jump start perekonomian negara-negara maju, betapapun hebatnya depresi moral dan psikologi yang menurut keyakinan saya memegang peran demikian besarnya dalam resesi yang sedang kita alami.

Itulah sebabnya dalam waktu yang begitu singkat orang sudah tidak terkejut lagi dan sudah terbiasa berbicara tentang trilyunan dollar AS yang dibutuhkan, sedangkan baru sekitar dua bulan yang lalu semua orang dikejutkan oleh permintaan dana sebesar 700 milyar dollar AS oleh Menteri Keuangan Henry Paulson.

Maka rasanya sudah terlihat a light at the end of the tunnel, karena negara-negara paling kaya sudah sepakat bertindak bersama-sama dengan kekuatan keuangannya yang luar biasa. Kecuali itu, pemerintah AS masih mempunyai kekuatan mencetak uang dollar AS yang akan diserap oleh seluruh dunia, karena kurang lebihnya sudah mentradisi menjadi standard dari mata uang seluruh dunia.


Bagaimana Indonesia?

Dengan sejujurnya saya tidak tahu dan tidak mempunyai gambaran sedikitpun tentang apa yang akan terjadi. Sebabnya karena pemerintah praktis tidak memberikan signal, apalagi gagasan dan rencana kerja yang jelas dan konkret.

Tadi telah dikatakan bahwa Indonesia yang strukturnya relatif kelebihan tenaga kerja, tetapi karena pengaruh globalisasi bisa saja mendapat dana dari luar negeri, yang membuat ketimpangan ini mengecil sedikit.

Tetapi modal asing yang masuk dan berupa investasi riil atau FDI sedikit. Bagian terbesarnya ditanam dalam saham-saham atau deposito yang cepat lari kembali, dan itu sudah terjadi. Maka IHSG kita menurun terus sebelum krisis keuangan di AS meledak, dan nilai rupiah juga merosot dengan 20% dalam waktu sangat singkat.

Maka untuk Indonesia yang berlaku tetap saja sebuah struktur yang relatif kekurangan modal dibandingkan tenaga kerjanya, walaupun Indonesia sangat terbuka dalam lalu lintas modal global. Tidak ada negara lain yang berkepentingan ekonomi Indonesia maju atau tidak. Maka tidak ada yang peduli terhadap Indonesia. Para pemimpin kita telah membuat bangsanya sendiri tidak relevan dalam globalisasi.

Sekarang sudah sangat jelas gambarannya bahwa perekonomian Indonesia kembali pada zaman kolonial, yaitu tempat untuk mengeduk kekayaan mineral dan kekayaan laut serta tempat untuk menanam komoditi perkebunan besar dengan nilai tambah untuk bangsa Indonesia yang sangat kecil. Indonesia juga sudah lama menjadi pasar barang-barang industri dari mancanegara dengan nilai tambah yang tinggi buat mereka yang diraih dari konsumen Indonesia.

Terjadilah hal yang sangat konyol. Tim Ekonomi menggebu-gebu mempropagandakan diri sangat terbuka terhadap modal asing, sangat liberal, tidak mau regulasi terlalu banyak, karena penganut Washington Consensus, merugikan negaranya sendiri sampai ratusan trilyun rupiah karena mengikuti secara membabi-buta dan nurut apa saja yang diperintahkan oleh IMF. Tetapi ketika ikut terkena dampak negatif dari globalisasi, liberalisasi, mekanisme pasar dengan pengaturan paling minimal dan sebagainya itu, tidak dianggap sama sekali oleh tuan-tuan yang memerintahnya.

Jadi apa yang harus dilakukan? Berpikir dan bersikaplah mandiri dan kreatif, berpikirlah secara lateral tanpa berdogma dan berdoktrin. Sudah terbukti bahwa para majikan dan ndoro-ndoro asingnya Tim Ekonomi seperti IMF dan Bank Dunia tidak berdaya dan juga tidak relevan lagi untuk mengatasi masalah-masalah keuangan dunia. Kekuatan modal mereka dibandingkan dengan yang ditipu oleh Bernard Madoff saja tidak ada artinya, apalagi dibandingkan dengan sekitar US$ 4 trilyun yang sedang disiapkan oleh AS, EU, China dan mungkin negara-negara Arab?

Karena tidak pernah terlatih secara mandiri, pikirannya tentang bagaimana menghadapi krisis ini ya sangat lucu. Mari kita telaah.

Tim Ekonomi akan memompa daya beli dengan cara mempercepat penggunaan APBN yang tidak mampu diserap oleh aparat birokrasi, sehingga tersisa sekitar Rp 60 trilyun. Ini kan bukan prime pumping? Ketika tidak mampu membelanjakan, sifatnya sudah kontraktif, sehingga ketika digenjot hanya mengkoreksi kesalahan, bukan prime pumping yang bisa membuat jump start.

Terus ingin memberi insentif pajak buat pengusaha. Pengusaha sedang menghadapi kemerosotan permintaan. Omsetnya turun, bukan beban pajaknya yang tinggi.

Yang ada pengaruhnya harga BBM yang justru tidak diturunkan secara signifikan, walaupun harga minyak mentah internasional sudah turun menjadi sangat rendah. Masih dalam bidang harga BBM, kebijakannya didasarkan atas persepsi yang salah sama sekali, mengandung penyesatan kepada rakyat seperti yang telah berkali-kali saya jelaskan sampai bosan. Sekarang lebih aneh lagi. Harga minyak mentah internasional yang diacu bagaikan agama turun drastis, harga BBM tidak diturunkan secara proporsional. Dalam kondisi sulit masih saja berbohong, mencla-mencle dengan perbuatan yang tidak konsisten dengan jalan pikirannya sendiri.

Lantas apa yang bisa dilakukan? Tidak banyak karena memang tidak ada kemampuan dana besar dan juga tidak ada kemampuan berpikir inovatif, kreatif dan mandiri. Rakyat tidak merasakan ada pemerintah atau tidak ada, karena pemerintahnya sendiri yang membuat dirinya tidak relevan dalam bidang ekonomi dengan dalih the best government is the least government. Bank Dunia dan IMF yang selalu menjadi acuan hanya bisa memberikan utangan lagi sekedarnya. Mereka sendiri sama sekali sudah tidak dianggap oleh negara-negara yang menentukan jalannya roda ekonomi dunia.


Paul Krugman tentang peran IMF di Indonesia

Apa kata Krugman tentang peran IMF di Indonesia dalam krisis tahun 1997? Dalam bukunya yang terbaru tersebut, di halaman 115 dan 116 Krugman berkomentar tentang kebijakan IMF di Indonesia sebagai berikut:

“Banyak orang mengatakan bahwa IMF dan Departemen Keuangan AS yang de facto mendikte IMF yang menyebabkan terjadinya krisis di Indonesia, atau mereka sangat salah (mishandled) menanganinya, sehingga krisisnya menjadi semakin parah.

Marilah kita mulai dengan yang paling mudah. Dalam dua hal IMF jelas melakukan blunder.

Pertama, ketika IMF diundang membantu Thailand, Indonesia dan Korea, mereka segera saja menuntut pengencangan ikat pinggang, bahwa negara-negara ini harus menaikkan pajak, mengurangi pengeluaran untuk menghindarkan diri dari defisit anggaran yang besar. Sangat sulit dimengerti mengapa kebijakan seperti ini yang menjadi programnya IMF di tiga negara tersebut, karena tidak ada seorangpun kecuali IMF (KKG : dan para kroninya di Indonesia) yang menganggap defisit anggaran sebagai masalah. Dan ternyata kebijakan IMF itu mempunyai dua dampak negatif. Yang pertama, resesi diperparah karena permintaan merosot. Kedua, segala sesuatunya menjadi lepas kendali sehingga terjadi kepanikan.

Kedua, IMF menuntut reformasi struktural (structural reform) yang melampaui batas-batas bidang moneter dan fiskal sebagai persyaratan memperoleh pinjaman dari IMF. Penutupan bank-bank tidak relevan untuk menanggulangi krisis. Yang lainnya, seperti menuntut pemerintah Indonesia menghapus pemberian monopoli oleh Presiden Soeharto kepada para kroninya tidak ada hubungannya dengan mandat dan wewenang IMF. Memberikan monopoli cengkeh kepada dua pengusaha saja memang hal yang buruk. Tetapi apa hubungannya dengan ketidak percayaan terhadap rupiah yang membuat nilai tukarnya anjlok?”

Para pembaca, ini kata-katanya Paul Krugman, bukan kata-kata saya. Banyak ekonom mengatakan hal yang sama di tahun 1997 sampai tahun 2000, tetapi mereka dianggap dungu dan goblok oleh para ekonom yang memegang kendali kebijakan ekonomi sampai hari ini. Bagaimana pendapat mereka sekarang terhadap Paul Krugman yang baru saja memenangkan hadiah Nobel?


Tim Ekonomi Tidak Perlu Cemas

Kembali tentang resesi yang sedang berlangsung, Tim Ekonomi tidak perlu terlampau cemas, karena nampaknya, dampak krisis dan resesi dunia tidak terlampau besar buat bagian terbesar rakyat Indonesia yang miskin. Mereka selalu hidup tanpa adanya keterkaitan dengan sektor modern di dalam negerinya sendiri (ekonomi dualistik), apalagi dengan dunia. Dunia mau hausse dan boom hebat-hebatan, mereka tetap miskin, dunia mau depresi hebat mereka juga tetap miskin. Mereka tidak lagi dijajah dan dihisap oleh kekuatan asing, tetapi oleh kekuatan elit bangsanya sendiri. Mereka sudah kekurangan gizi, tidak berpendidikan dan tidak sehat, sehingga menerima kemiskinan, kelaparan dan kematian dengan tenang tanpa protes.

Itulah sebabnya elit kita, termasuk pemerintahnya cukup tenang dan terkesan tidak peduli pada nasib dari bagian terbesar rakyatnya yang sangat miskin. Banyak yang mengatakan kepada yang prihatin: bukankah jalanan macet dengan kendaraan mewah? Bukankah ada Grand Indonesia yang bisa dipasangi gambar besar dengan Presiden dan para menteri yang sedang memakmurkan rakyatnya (walaupun hanya dalam gambar saja)? Bukankah ada berbagai city ini dan city itu yang merupakan kota-kota kecil mandiri super baru dan super mewah di Jakarta? Bukankah di setiap sudut kota ada mall dengan barang-barang bermerk yang sangat mahal? Masa bodoh siapa yang membiayai. Masa bodoh laku dijual atau tidak, masa bodoh bank-bank BUMN yang membiayainya menyembunyikan kesulitannya memperoleh pembayaran kembali cicilan utang pokok dan bunganya, sampai nanti bank-bank ini meledak lagi. Kalau itu terjadi, Uncle Sam dan IMF toh akan datang melindunginya lagi, selama kebijakan ekonomi berada di tangan para kroninya. Kalau ini yang ada dalam benak pemerintah, terutama Tim Ekonominya, kami hanya mohon satu hal: be realistic.

Oleh Kwik Kian Gie

KoranInternet.com

No comments: