Sunday, December 28, 2008

Rencana Anggaran Investasi (RAI)

Minggu, 28 Desember 2008 | 01:07 WIB

Elvyn G Masassya praktisi keuangan

Bagaimana kinerja investasi Anda tahun ini? Sebagian dari Anda yang senang menempatkan uang di pasar modal, tetapi berperilaku takut risiko boleh jadi sedang harap-harap cemas.

Ya, sebab tengah berada dalam posisi unrealized loss alias menanggung potensi kerugian. Kenapa begitu? Karena Anda masih memegang saham-saham yang harganya tidak kunjung naik, sementara waktu beli harganya ada di atas. Saham-saham tersebut masih dipegang karena berharap suatu ketika harganya akan naik lagi.

Keyakinan seperti itu bisa saja menjadi kenyataan. Tetapi, kalau keyakinan tidak dibarengi aksi lain, Anda bisa disebut tidak melakukan upaya meminimalisasi potensi kerugian karena Anda tidak tahu sampai kapan saham yang saat ini Anda pegang harganya akan naik lagi, setidaknya mencapai harga seperti ketika Anda beli.

Soal lain, jika Anda yakin harga saham akan naik lagi, mestinya Anda juga membeli saham-saham tersebut dan juga saham lain yang harganya Anda yakini juga akan naik. Alasannya, jika perkiraan itu benar, Anda bukan saja meminimalisasi potensi kerugian saham Anda, tetapi juga bisa mendulang keuntungan dari saham yang baru Anda beli. Untuk merealisasikan keyakinan seperti itu, ada baiknya Anda merancang apa yang disebut rencana anggaran investasi (RAI).

Sebagaimana lazimnya perusahaan, pasti memiliki rencana perusahaan atau kalau dalam istilah agak ”kuno” disebut RKAP (rencana kegiatan dan anggaran perusahaan). RKAP biasanya membahas kegiatan yang hendak dilakukan dan penyiapan anggarannya, termasuk sumber dan penggunaannya. Dengan pendekatan sama, sebenarnya Anda juga bisa merancang agar kegiatan investasi Anda menjadi lebih terkelola berbasis RAI. Lantas, apa saja isinya?

Menyusun RAI

Pertama, tentu saja Anda mesti rela mengevaluasi kinerja investasi Anda tahun ini. Ingat kembali tujuan keuangan Anda, bagaimana realisasinya. Kalau belum tercapai, apa penyebabnya. Apakah benar karena masalah ekonomi dan keuangan makro yang di luar kontrol Anda atau karena kekeliruan dalam proses pengambilan keputusan. Ini penting sebab kebanyakan dari kita lebih suka mengambinghitamkan pihak lain jika terjadi kegagalan.

Kondisi ekonomi makro, misalnya, sangat sering menjadi sasaran tumpahan kemarahan: kondisi makro tidak kondusif, tidak bersahabat. Kalaupun memang seperti itu, toh pertanyaannya, apakah kita pernah meramalkan kondisi makroekonomi akan memburuk? Kalau tidak, ya salah sendiri. Kalau ya, kenapa tidak membuat keputusan yang bisa dilaksanakan dalam kondisi makroekonomi memburuk?

Aneh? Tidak juga. Investasi bisa dilakukan kapan saja, dalam keadaan ekonomi baik maupun buruk. Intinya, ketika kita melakukan evaluasi terhadap kinerja investasi pada tahun berjalan, maka jangan lupa melihat bagaimana konsistensi kita ketika membuat putusan investasi dalam keadaan ekonomi seperti apa pun. Termasuk, misalnya, apakah kita pernah serakah atau ketakutan amat sangat.

Makna serakah adalah ketika memegang satu saham dan harganya sudah meningkat, kita masih berharap harganya terus meningkat dan tidak mau menjualnya. Padahal, mungkin sebelumnya Anda cuma berharap memperoleh keuntungan 10-15 persen saja. Yang terjadi malah potensi kerugian karena harga saham kemudian jatuh.

Contoh lain, ketika harga saham sudah turun 10-15 persen, Anda tidak berani melakukan cut loss, tetap berharap esok hari harga akan meningkat. Begitu seterusnya. Padahal, harga saham yang Anda pegang semakin longsor ke bawah.

Konkretnya, sebagian besar kegagalan dalam berinvestasi sebenarnya karena kegagalan dalam membuat keputusan yang konsisten dengan apa yang telah direncanakan dan termuat dalam RAI. Singkatnya, perbaiki dulu perilaku pengambilan keputusan sebelum Anda masuk ke aspek pembuatan rencana kegiatan investasi baru.

Kedua, memasukkan rencana kegiatan investasi berbasis tujuan keuangan. Tujuan keuangan, apa pun itu, sebaiknya jangan terlalu di awang-awang, tetapi juga jangan terlalu rendah. Prinsipnya, menantang, tetapi realistis.

Menantang dalam arti lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya, tetapi masuk akal untuk diraih. Setelah Anda melewati fase ini, tentu saja mesti dibuatkan alokasi investasinya, termasuk ke pasar modal.

Basisnya investasi untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Pengertian menengah dan panjang adalah saham yang Anda beli dimaksudkan untuk dipegang dalam jangka lebih dari setahun dan yang jangka pendek di bawah satu tahun, bisa Anda lepas atau beli lagi dalam kurun waktu tersebut dengan maksud memperoleh keuntungan.

Dalam melaksanakan investasi, Anda tentu mesti memilih saham-saham yang sesuai dengan tujuan investasi. Anda juga tentu pernah mendengar istilah diversifikasi dalam pembuatan portofolio investasi.

Ada baiknya Anda hati-hati memaknai diversifikasi dalam portofolio. Istilah dan strategi ini akan valid jika dipergunakan pada saat ekonomi sedang bertumbuh kembang. Jika ekonomi ternyata kurang bersahabat, mungkin Anda bisa mempertimbangkan strategi fokus, utamanya untuk portofolio investasi jangka pendek.

Artinya, Anda tidak perlu menyebar uang ke berbagai jenis saham, tetapi fokus pada saham-saham yang bisa memberi imbal hasil besar dalam jangka pendek, termasuk saham-saham yang pergerakan harganya cukup besar ketika diperdagangkan. Itulah makna RAI. Selamat mencoba.

Kompas

No comments: