Sunday, December 21, 2008

Perencanaan dan Evaluasi Investasi

Minggu, 21 Desember 2008 | 01:33 WIB

Adler Haymans Manurung praktisi keuangan

Pada penghujung tahun setiap orang biasanya mengevaluasi kerja yang dilakukan pada tahun bersangkutan untuk melihat apakah hasil yang dicapai sesuai target yang ditentukan pada awal tahun.

Sebaiknya pada akhir tahun investor membuat proyeksi target tahun depan dan sekaligus evaluasi tahun ini. Bila investor mengetahui hasil yang dicapai, kemungkinan rencana tahun depan dapat dibuat.

Bila hasil yang dicapai kurang dari target, investor perlu memikirkan penyebabnya. Sebaliknya, bila target lebih kecil dari hasil yang dicapai, akan muncul pertanyaan apakah bisa lebih besar lagi hasilnya tahun depan.

Hasil yang dicapai dihitung dengan cara harga saat ini ditambah dividen dari distribusi pendapatan dibagi harga sebelumnya dikurangi 100.

Misalnya, investor A mempunyai nilai aset saat ini Rp 950 dan satu tahun lalu ketika mulai diinvestasikan Rp 750 dan selama setahun memperoleh distribusi pendapatan (dividen, bunga dan sewa) Rp 50, maka tingkat pengembalian yang diperoleh (((Rp 950 + Rp 50) : Rp 750) -1)% = 33,33%.

Bila investasi pada properti, maka investor akan memperoleh sewa dan apresiasi harga properti tersebut. Bila membeli properti pada harga Rp 1 miliar lalu saat ini harganya Rp 1,1 miliar dan properti tersebut disewakan Rp 75 juta per tahun, maka hasil investasi adalah (((Rp 1,1 miliar + Rp 75 juta) : Rp 1 miliar) – 1)% = 17,5%.

Bila investasi Rp 1 miliar tersebut pada obligasi dua tahun dengan kupon 12% pada harga 101,4, maka investor akan memperoleh hasil dari kupon obligasi dan apresiasi harga obligasi dengan harga obligasi saat ini 95,3 sebesar (((Rp 0,953 miliar + Rp 0,12 miliar) : Rp 1,014 miliar) – 1)% = 5,82%.

Hasil uraian di atas memperlihatkan, investasi dapat memberi hasil bervariasi, tergantung dari aset yang diinvestasikan.

Sumber hasil

Sumber hasil juga dapat sangat berbeda, dapat juga diuraikan dari berbagai sumber.

Sumber utama terjadi dari hasil pasti, yaitu distribusi pendapatan, bunga (kupon), dan sewa. Sisanya merupakan selisih harga dari aset yang diinvestasikan.

Selisih harga ini dapat juga diuraikan dari berbagai sumber, misalnya dikarenakan kebijakan pemerintah yang menaikkan/menurunkan tingkat bunga.

Kebijakan tingkat bunga merupakan faktor eksternal, termasuk juga inflasi dan nilai kurs di mana semua nilainya tidak bisa dikendalikan. Tetapi, selisih harga tersebut juga bisa disebabkan keahlian investor memilih aset sebagai investasi dan tentu saja pengelolaan aset tersebut sehingga investor dapat memperoleh selisih harga yang baik.

Bila investor menggunakan keahlian pihak lain yang mempunyai izin untuk pengelolaan investasi, investor dapat meminta pihak lain tersebut menjelaskan kelebihan/kekurangan hasil yang dicapai dibandingkan dengan target yang disepakati.

Target investasi

Target investasi tahun mendatang bisa menggunakan hasil yang dicapai tahun sebelumnya, tetapi tidak seluruhnya karena hasil masa lalu bukan mencerminkan hasil yang akan dicapai masa depan.

Untuk menentukan target masa depan, investor harus memerhatikan situasi yang akan terjadi. Salah satu indikatornya adalah perkiraan tingkat pertumbuhan ekonomi masa mendatang.

Biasanya, pemerintah mengeluarkan angka perekonomian tahun mendatang, terutama menyangkut indikator makro, yaitu tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat bunga, inflasi, dan nilai kurs.

Investor juga bisa menggunakan angka yang dikeluarkan lembaga yang lain, seperti lembaga riset dan lembaga internasional yang sering memerhatikan negara ini.

Untuk kasus Indonesia, pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diperkirakan 5,3%-6% walaupun Bank Dunia memperkirakan jauh lebih kecil, yaitu 4,4%.

Tingkat bunga SBI untuk tiga bulan diperkirakan 8%, inflasi 6,2%, dan nilai kurs Rp 9.150 per dollar. Angka asumsi ini dapat dipergunakan untuk merencanakan target investasi tahun mendatang. Artinya, investor akan memperoleh hasil yang bebas risiko sekitar 8% karena SBI 8% sehingga tingkat bunga kemungkinan akan turun tahun mendatang.

Karena itu, target investasi investor harus lebih tinggi dari angka tersebut sebab investor berinvestasi pada sektor lain yang berisiko. Investor juga harus memerhatikan karakteristik industri yang diinvestasikan sehingga tingkat pengembalian yang diinginkan berada di atas risiko yang dapat ditolerir.

Bila investor berinvestasi pada deposito, investor dapat memilih investasi yang jatuh setiap bulan kemudian di-roll-over setiap bulan atau langsung berinvestasi satu tahun.

Untuk satu bulan kemungkinan masih dapat bunga 13% untuk bulan pertama dan kemudian turun lagi pada bulan kedua. Bila investasi langsung satu tahun dengan hasil 11%, maka akan lebih baik memilih pilihan pertama, yaitu investasi satu bulan yang kemudian diperpanjang (roll-over) setiap bulannya.

Jika berinvestasi pada obligasi perusahaan swasta, patokannya adalah tingkat pengembalian dari obligasi pemerintah. Saat ini obligasi pemerintah besarnya 10%-15% sehingga tingkat pengembalian harus lebih besar dari angka tersebut. Demikian pula investasi pada saham, hasil yang diinginkan (target) harus lebih tinggi karena risikonya lebih tinggi dari deposito. Selamat berinvestasi.

Kompas

No comments: