Sunday, December 14, 2008

Keterbatasan Penghasilan

Minggu, 14 Desember 2008 | 01:17 WIB

Elvyn G Masassya praktisi keuangan

Penghasilan terbatas, sementara kebutuhan pengeluaran tidak terbatas. Hal semacam itu memang bukan hal baru, tetapi masih saja terus terjadi. Karena itu, ulasan mengenai hal tersebut tetap saja aktual.

Mari kita cermati dulu filosofinya. Apakah benar penghasilan terbatas dan kebutuhan akan pengeluaran tidak terbatas. Jawabannya adalah tidak benar.

Tentang penghasilan, misalnya, jika Anda bekerja pada suatu perusahaan, maka Anda akan menerima antara lain gaji dan bonus. Anda menyebutnya sebagai terbatas karena penerimaan tersebut bersifat tetap. Benarkah demikian? Tidak juga. Anda sebenarnya masih memiliki peluang memperoleh penghasilan lain, di antaranya melalui investasi.

Ketika Anda mau menyisihkan sebagian penghasilan tetap itu untuk berinvestasi, maka hasil investasi Anda bisa tidak terbatas. Jangan pernah bilang tidak ada dana tersisa untuk investasi. Berapa pun kecil dana yang Anda sisihkan, suatu ketika dana itu akan beranak pinak. Itulah investasi.

Namun, bagaimana jika Anda bukan karyawan, tetapi bekerja untuk diri sendiri? Benar, penghasilan Anda tidak tetap, bisa besar bisa kecil. Tetapi, coba pikir, kenapa bisa besar dan bisa kecil? Jika Anda mampu mendapatkan order atau pembeli dari produk/jasa yang Anda jual dalam jumlah besar, maka penghasilan Anda juga bisa sangat besar dan tidak terbatas. Dari penghasilan tersebut, sebagian bisa diinvestasikan. Konkretnya, penghasilan yang Anda sebut sebagai terbatas, sebenarnya tidak ada. Yang ada adalah masih belum optimalnya kemampuan yang dikerahkan untuk memperoleh penghasilan tidak terbatas.

Pengeluaran

Berikutnya aspek pengeluaran. Sudah menjadi rahasia umum banyak keluarga setiap bulan mengeluh karena penghasilan tidak cukup untuk membiayai ini-itu. Intinya, banyak sekali keinginan yang tidak terpenuhi karena (anggapan) minimnya penghasilan.

Pertanyaannya, apakah jika keinginan itu tidak terpenuhi, lantas hidup selesai? Keluhan selalu ada, tetapi ketika keinginan tidak terpenuhi toh juga tidak apa-apa. Anda ingin memiliki telepon seluler paling mutakhir, tetapi tidak terbeli, lalu kenapa? Telepon seluler yang sekarang dipakai toh masih berfungsi. Itu contoh betapa keinginan itu sebenarnya tidak terbatas, tetapi kebutuhan ada batasnya.

Anda bisa memiliki 10 telepon genggam, tetapi fungsinya tetap sama. Gengsinya saja yang mungkin berbeda. Dalam jagat keuangan, ihwal gengsi tidak bisa dianggap sebagai kebutuhan. Itu hanya keinginan yang jika tidak terpenuhi sama sekali tidak berdampak apa-apa, kecuali dampak perasaan belaka.

Konsep penghasilan dan pengeluaran di atas sebenarnya sangat mendasar dan semua orang juga tahu, tetapi kenapa mengimplementasikannya terasa sangat sulit?

Masalahnya bukan lagi di tataran pengaturan keuangan, melainkan pengaturan diri sendiri. Soalnya adalah bagaimana mengalahkan nafsu diri. Itu fondasinya. Lantas, bagaimana dengan jurus keuangan mengatasi keterbatasan penghasilan dan besarnya pengeluaran?

Pertama, telaah dulu aspek yang dapat dikendalikan, yakni pengeluaran. Hakikatnya, berapa pun kecilnya penghasilan akan mencukupi untuk membiayai pengeluaran karena di dunia ini pengeluaran lebih bersifat pilihan. Anda bisa sarapan pagi di hotel mewah dengan biaya Rp 500.000, tetapi juga bisa hanya dengan sepotong roti yang harganya Rp 5.000.

Dalam realitasnya, yang lebih sulit dikontrol adalah pengeluaran untuk hal bersifat sekunder dan tersier. Oleh karena itu, perlu didefinisikan kembali apa saja yang tergolong kebutuhan primer, sekunder, dan tersier, dengan menggunakan logika kebutuhan manusia secara umum.

Ini penting dipahami, sebab ada kalangan tertentu yang misalnya, beranggapan pergi ke kelab malam merupakan kebutuhan utama, sementara sandang dan pangan menjadi kebutuhan nomor sekian. Jika ini yang menjadi ”mazhab” tentu saja tidak ada konsep keuangan yang bisa dijadikan solusi. Makhluk seperti itu tergolong tidak biasa, maka solusi permasalahan keuangannya juga mesti khusus; tidak berlaku bagi orang kebanyakan. Dus, tidak perlu kita bahas di sini.

Kedua, jangan pernah berutang untuk memenuhi kebutuhan bukan primer. Kalau tidak mampu lagi memberi makan keluarga, dalam keadaan darurat Anda boleh saja berutang, kepada siapa saja. Tetapi, kalau gara-gara Anda ingin membeli telepon seluler model terbaru, atau ingin jalan-jalan ke Karibia, atau sekadar memiliki barang konsumtif yang sebenarnya tanpa itu Anda tidak apa-apa, maka Anda telah menggadaikan masa depan keuangan Anda.

Kok begitu? Ya, karena Anda telah mengalokasikan pendapatan masa datang Anda untuk hal yang tidak utama. Dijamin Anda akan terjerembab dalam ”kuburan” utang karena penghasilan Anda tidak mencukupi lagi, bahkan untuk membiayai kebutuhan primer. Kecuali, Anda bermaksud ngemplang kepada pemberi utang. Itu soal lain. Itu artinya, Anda memang rela menggadaikan harga diri Anda hanya karena barang konsumtif.

Ringkasnya, kebutuhan manusia pada dasarnya terbatas. Yang tidak terbatas adalah keinginan. Oleh karena itu, mengelola penghasilan agar cukup untuk membiayai pengeluaran, hakikatnya adalah mengelola keinginan dan meningkatkan kontrol diri. Selamat mencoba.

Kompas

No comments: