Saturday, October 25, 2008

[Bagian 55 dari 100] New Wave Marketing: Mangan ora Mangan Kumpul

Sabtu, 25 Oktober 2008 | 02:30 WIB

ADA satu buku favorit saya yang nampaknya sekarang sudah sulit didapatkan di toko buku. Judulnya Mangan ora Mangan Kumpul, karya klasik dari almarhum Prof. Umar Kayam. Terus-terang, saya teringat buku ini ketika sedang demam Laskar Pelangi saat ini. Dua-duanya sangat khas Indonesia. Kalau Laskar Pelangi menceritakan kehidupan sebuah komunitas masyarakat di Pulau Belitong, maka Mangan ora Mangan Kumpul bercerita tentang kehidupan sehari-hari satu keluarga di Jogja.

Buku ini memang buku lama, kalau tidak salah terbit sekitar akhir 1980-an. Buku ini merupakan kumpulan kolom tulisan Umar Kayam di harian Kedaulatan Rakyat. Ceritanya sendiri berkisah tentang sebuah keluarga yang terdiri dari majikan dan keluarga pembantunya. Sang majikan bernama Pak Ageng, yang berprofesi sebagai dosen. Sementara si pembantu merangkap tukang kebun dan sopir sekaligus namanya Mister Rigen. Istri Mister Rigen bernama Nasiyem, dan anak-anak mereka bernama Beny Prakosa dan Tholo-Tholo. Keluarga Pak Ageng sendiri tinggal di Jakarta, jadi ia tinggal sendirian bersama keluarga pembantu tadi.

bersambung...

Hermawan Kartajaya

Kompas

No comments: